Black Beauty (Novel Grafis)

Penerjemah: Jarvi Kurnia Lestari
Penerbit: BIP
Tebal: 70-an halaman
ISBN: 9789797985660
Cetakan: I, Oktober 2007
Beli di: HM Books

Novel utuhnya, yang diterbitkan Orange Books, sudah saya ulas di situ.

There’s no point in turning books into pictures if the pictures add nothing to the words, demikian pendapat Ned Beauman dalam artikelnya, Comic Versions of Books Need A Novel Angle. Dalam tulisan tersebut, Beauman menyitir ucapan Art Spiegelman, “I couldn’t figure out why on Earth anyone should bother to adapt a book into… another book!”

Sebuah karya acap melahirkan banyak versi dan aneka format, terutama bila dipandang menebar manfaat yang perlu dinikmati pembaca dari berbagai kalangan usia, lebih dari sekadar buku yang bagus. Seperti laiknya film, yang tidak jarang melecut komparasi kendati sudah jelas bahwa medianya pun berbeda, format novel grafis dibebani ekspektasi pembaca versi bukunya agar tidak kehilangan kesan yang sudah terbangun.

Tatkala membaca novel grafis ini, semata yang saya inginkan adalah suasana baru dan ringan. Lumrah saja bila dengan ketebalan halamannya yang tidak sampai seratus, saya berniat berleha-leha belaka. Kemudian mata disergap hidangan gambar berwarna cantik, sosok kuda memesona yang mengejawantah, sebab bukan rahasia lagi bahwa interprestasi visual kadang membantu menyelami jiwa sebuah cerita, meski ada kalanya membuyarkan imajinasi pula.

Masih merujuk pada artikel di atas, Black Beauty bukan satu-satunya fiksi klasik yang diangkat ke dalam komik. The Man in the Iron Mask dilirik oleh Marvel, sedangkan Macbeth, Jane Eyre, dan Great Expectations digarap oleh Classical Comics. Tantangannya, tentu, membahasakan fiksi dalam gambar secara segar dengan pemilahan sub plot sesuai keterbatasan ruang.

Bagaimana dengan novel grafis yang sampulnya didominasi warna biru dan hitam ini? Saya berani mengatakan bahwa adaptasinya terbilang berhasil. Jarak membaca novelnya lumayan jauh di belakang, tetapi saya terkenang-kenang lagi kala membuka versi ini. Adegan-adegan mengharukan masih mengundang sungai air mata, pesan-pesan bijaksana tidak pudar, dan kita masih tergedor untuk memedulikan nasib binatang melalui karya Anna Sewell yang secara eksplisit mencerminkan keprihatinannya pada hewan bernama kuda.

Singkat kata, Black Beauty versi grafis merupakan komplementer menarik bagi novelnya. Buku ini pun cocok untuk rujukan belajar anak-anak, sebab disertai pertanyaan seputar isi cerita di belakangnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s