Kaos Kaki Koki Komi

Penerbit: Human Books, 2010
Tebal: 168 halaman
ISBN: 9786029675146

Beli di: Tisera, Jatinangor
Harga: Rp 28.000,00

Dalam Dasar-dasar Penulisan Cerita Anak-anak, tulisan yang dihimpun dalam Teknik Menulis Cerita Anak (Pinkbooks, 2003), Korrie Layun Rampan mengemukakan sebagai berikut:
“Cerita anak-anak adalah cerita sederhana yang kompleks. Kesederhanaan itu ditandai oleh syarat wacananya yang baku dan berkualitas tinggi, namun tidak ruwet, sehingga komunikatif. Di samping itu, pengalihan pola pikir orang dewasa kepada dunia anak-anak dan keberadaan jiwa dan sifat anak-anak menjadi syarat cerita anak-anak yang digemari. Dengan kata lain cerita anak-anak dengan segala aspek yang berada dan mempengaruhi mereka.”

Bagaimana dengan Kaos Kaki Koki Komi yang merupakan bunga rampai para penulis anggota Forum Penulis Bacaan Anak ini? Saya tidak akan membahas perkara typo dan ejaan, biarlah itu menjadi tanggung jawab penyunting dan penulis masing-masing. Buku ini membidik satu sudut dalam spektrum fiksi anak, yakni dunia dongeng yang sarat karakter sentral putri dan pangeran. Sebagian masih dibuka dengan “Putri A atau Pangeran B adalah…” tetapi beberapa penulis telah menggunakan pendekatan berbeda, yakni kalimat awal yang langsung berupa aksi dan lebih segar untuk membetot perhatian pembaca untuk meneruskan alinea bahkan halaman berikutnya.
Pendekar Terhebat (Novi Kurnia)
Gagasan unik di sini adalah godaan untuk bersikap tamak dapat melanda semua manusia, termasuk seseorang yang bertitel pangeran. Cerita tidak sulit diserap walaupun karakternya adalah orang dewasa. Catatan saya dua saja:

1. Alangkah lebih tepatnya bila pengawal kerajaan Andrana dikisahkan bukan menangis, melainkan murung. Bukan berarti saya alergi akan karakter pria yang menangis, tetapi pada kasus ini terasa kurang cocok. Lebih-lebih para pengawal itu sudah dewasa.
2. Pesan moral akan lebih mengena jika Pangeran Surya yang menghadap Raja Andrana diceritakan secara detail, tidak langsung melompat pada sub plot kembali ke istana. Sebab di situlah pergulatan batin terjadi, antara rasa malu, rikuh, sekaligus panggilan untuk melakukan tindakan yang benar.

Pertanyaan saya: Mengapa ketika menghadap Raja Andrana, Pangeran Surya kembali mengenakan pakaian rakyat jelata?

Putri Marsha yang Manja (Tedi Siswoko)
Seorang anak yang terbiasa mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan secara mudah memang berpotensi tinggi menjadi manja dan tukang perintah. Ilustrasi mendukung betapa tidak inginnya Putri Marsha melakukan sesuatu yang sebenarnya untuk kepentingan sendiri dan mudah dikerjakan seandainya ia mau. Untuk cerpen ini, saya pun memiliki dua catatan:

1. Disarankan perincian Putri Marsha ketika ngambek dan tidak mau mandi karena tidak boleh meminta tolong pelayan, misalnya badannya berkeringat namun ia berkeras. Dengan begitu, terasa bahwa kemalasan ada dampaknya.
2. Sedari awal, tidak pernah ada keterangan bahwa sebelumnya Putri Marsha pernah ‘bekerja’ dalam arti menyiapkan makanan dan keperluan mandi sendiri. Mengapa saat semua penghuni lain di istana tertidur, ia terkesan ‘mendadak’ mampu mengerjakan semuanya? Sebaiknya ada tahap-tahap yang menggambarkan Putri Marsha kesulitan melakukan semua itu untuk pertama kali.

Pertanyaan saya: Berapa umur Putri Marsha?

Atsu dan Peri Angin (Benny Oktaviano)

Ide akan bulan dan bumi yang berdekatan cukup menarik. Apalagi bumi yang berwarna hijau kebiruan secara masuk akal ‘mengundang’ makhluk dari planet lain untuk bermain dan bersukaria. Gagasan yang tidak kalah kreatif ketika Atsu dikisahkan mengambinghitamkan kancil atas hilangnya ketimun Pak Tani.

Catatan:

1. Selama ini, bulan dipandang ‘misterius’ dalam arti tidak ada bukti ilmiah mengenai adanya makhluk hidup di sana. Akan sangat membantu, meskipun cerpen ini fantasi, bila dibubuhkan keterangan tambahan mengenai fisik Atsu dan neneknya. Sebab makhluk yang dapat berdiam di bulan pastilah ‘istimewa’.

2. Tabiat manusia yang badung dan tidak sopan memang perlu disampaikan pada pembaca anak. Tetapi ucapan ‘peri tolol’ [di hal. 34, tertulis ‘peri totol’] agaknya kurang pas dalam cerpen anak seperti ini.

Boots yang Angkuh (Resti Nurfaidah)

Ada warna baru pada cerpen ini, yakni taburan nama-nama berbau Barat. Terbilang realistis karena banyaknya anak zaman sekarang yang menggunakan nama Barat, serta minat mereka pada bacaan dari mancanegara. Dipadukan dengan sudut pandang sepatu yang disulap menjadi ‘makhluk hidup’, jadilah cerpen yang cukup panjang.

Catatan:

1. Sebaiknya dipakai ejaan ‘bot’ bukan ‘boot’ yang terdengar ‘asing’.
2. Disarankan memberikan keterangan tentang lokasi Eastern Park, baik di negeri fiktif maupun negeri yang benar-benar ada.

Mia Mengganti Suaranya (Fatma Indriani)

Judul ini sungguh menonjol. Dengan apa Mia mengganti suara? Dan mengapa? Rasa penasaran pun tumbuh untuk mengetahuinya. Uniknya, masalah suara yang ternyata ‘jelek’ dapat diatasi dengan jalan keluar yang mengajarkan untuk menerima kenyataan, bukan berusaha menukarkan lagi.

Catatan:
1. Judul yang lebih pas adalah ‘Mia Menukar Suaranya’. Kata ‘mengganti’ berkonotasi ‘mengubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda’.
2. Kalimat Bibi Tilda “Pernahkah kau mendengar bahwa menyanyi itu satu bagian bakat dan sembilan bagian kerja keras?” (hal. 60) disarankan diubah menjadi ‘Pernahkah kau mendengar bahwa keberhasilan itu atu bagian bakat dan sembilan bagian kerja keras?” Dengan demikian, pemahaman anak menjadi lebih luas, tidak ‘terpeleset’ bahwa menyanyi saja yang butuh usaha.

Kaos Kaki Koki Komi (Rae Sita Patappa)

Permainan kata yang memukau dikombinasikan dengan latar relatif berbeda berupa dapur istana, itulah sisi spesial cerpen ini. Cerita yang cukup gembur dengan beberapa sub plot meski tetap kronologis dan dijaga dengan nama karakter yang serba singkat agar pembaca tidak kebingungan.

Catatan:
1. Dianjurkan merinci ihwal mi sagu, jika memang ada, karena aspek ini sangat mengundang rasa ingin tahu dan berpotensi menarik pembaca anak-anak pula. Akan semakin kuat dengan dukungan ilustrasi.
2. Cara dua koki senior mengetahui pemikiran Komi yang menghubungkan kaus kaki dengan masakan yang enak agak ‘mendadak’. Akan lebih jelas apabila dikisahkan mereka mengobrol dengan kedua pelayan atau memerhatikan kaus kaki Komi yang mencolok setelah dibuatkan oleh temannya.

Latiko dari Pulau Latik (Aan Wulandari Usman)

Napas lingkungan hiduplah yang membedakan cerpen ini dari yang lainnya. Pemakaian nama yang cerdik, Latik dari plastik (CMIIW) dan Marina-Marin menggambarkan pulau yang memiliki pantai.
Tanpa bermaksud mempertanyakan kebijakan redaksi Suara Merdeka yang pernah memuat tulisan ini, berikut catatan saya:

1. Jika pulau Latik ada di peta dunia, berarti pulau itu benar-benar ada. Zaman dan tahun berapakah cerita ini dikisahkan, mengingat sudah ada peta yang bisa digunakan?
2. ‘Pulau ini dinaungi banyak pepohonan’ (hal. 91) berkonotasi ‘pulau Marin berada di bawah pepohonan’, sebaiknya dikoreksi menjadi ‘Pulau ini dipenuhi pohon’.
3. Latik mengatakan belum pernah mendapati roti dan susu, serta baru mengetahui rasanya. Saran saya, ditambahkan penjelasan yang menyebabkan pulau Latiko penuh barang tiruan sebab ada kesan bahwa itu terjadi sedari mula, atau setidaknya sejak Latik belum lahir.

Peri Batu (Arleen Amidjaja)

Cerita yang simpel dan mengangkat karakter peri-peri, elemen yang banyak disukai konsumen bacaan anak. Ihwal pembagian tugas, hambatan dalam bekerja, dan rasa berguna yang disampaikan secara sederhana.

Catatan:

Akan semakin mengasyikkan bila Peri Batu dan Peri Bunga berbaikan secara lebih rinci, mengingat Peri Batu sempat kesal pada Peri Bunga yang digemari anak-anak dan menjadi penyebab tidak langsung keberantakanan batu-batunya.

Putri Alana dan Putri Anaya (Fita Chakra)

Putri kembar, bunga, dan kuda bersurai emas adalah resep yang aduhai untuk menghasilkan cerita menawan bagi penggemar fantasi. Ada kandungan pesan moral bahwa hal yang diinginkan harus dicapai dengan kesabaran.

Catatan:

1. Perlu dijelaskan muasal mantra yang diperoleh Putri Alana sebelum menemui Laluta. Ada kesan bahwa sebenarnya kedua putri ini mengetahui/memiliki ilmu sihir.

2. Cerpen ini akan semakin cantik bila alinea terakhir dipangkas untuk menghindari kesan verbal pada pesan moralnya, sebab sudah terbaca dengan jelas dari keseluruhan.

Kana Bongsom (Iwok Abqary)

Satu lagi cerpen yang berjudul kreatif. Penulis berani menggunakan sudut pandang perempuan dan tetap menghamparkannya dengan manis.

Catatan:

1. Kana masih ‘bermonolog’ di halaman 123 (Ibu payah nih..dst). Bagian ini dapat diubah menjadi kalimat langsung dalam tanda kutip untuk menggambarkan pikiran Kana, tetapi lebih disarankan dipangkas sebab pemikiran ‘menikah dengan Pangeran akan membuat Ibu ikut merasakan hidup mewah’ agak riskan untuk dibaca anak-anak.

2. Kalimat terakhir akan bertambah memesona jika dimodifikasi sebagai berikut agar tidak terlalu padat:
‘Tahukah kamu siapa gadis baik itu? Namanya Upik Abu, atau lebih dikenal sebagai Cinderella.’

Raja Ompong (Deny Wibisono)

Orang yang memiliki kedudukan bukan berarti tanpa ‘cacat’. Cerpen ini mengambil bibit tema yang sederhana.

Catatan:
1. Ia tidak menyangka Raja bisa masuk ke rumahnya yang jelek (hal. 136), akan lebih pas jika diubah menjadi ‘rumahnya yang sederhana’.

2. Gigi memang unsur penampilan yang penting dan dapat menggelisahkan. Namun mengingat pembaca anak-anak sangat kritis, disarankan Raja gelisah akan gigi palsunya bukan karena takut ditertawakan, melainkan karena masa adaptasi dengan gigi palsu yang membuatnya kesulitan berbicara dengan jelas.

Obat Buat Nenek Inez (Sokat Rachman)

Cerpen ini mengambil tema kucing vs tikus, ditambah upaya dua ekor cucu untuk menyembuhkan nenek mereka yang sakit.

Catatan:

1. Saya memang pernah melihat rumah yang ruang tamunya berlubang. Tetapi agak sulit membayangkannya menuju dapur yang cukup jauh. Disarankan merinci perjalanan ke sana dengan membentur perabotan lain, atau bertemu pemilik rumah (manusia).

2. Terjadi ‘benturan’ yang membingungkan sebab Kemi disebut pemalas (hal. 144) sedangkan sebelumnya (hal. 142) disebutkan ‘Kemi suka sekali mengejar tikus’.

Kepala Dicukur, Kelapa Dikukur (Firmanawaty Sutan)

Penulis rajin memberikan catatan agar anak memahami istilah kukur. Cerita yang sederhana dan mengandung muatan komedi, bahkan sama sekali tidak berbau fantasi seperti yang lain.

Catatan:
1. Pengolahan kalimat pembuka akan menjadikan cerpen ini semakin segar. Misalnya seperti ini, “Nama Pak Cukur dan Pak Kukur memang mirip, tetapi itu menunjukkan pekerjaan mereka yang jauh berbeda.”

2. Alinea kedua dari bawah (halaman terakhir) agak membingungkan, sebab kalimatnya kurang jelas ditujukan kepada Pak Cukur atau Pak Kukur. Bila maksudnya yang kedua, sebaiknya diubah seperti ini, “Makanya Pak, jangan samakan kepala dengan kelapa..”

Gadis Pilihan Pangeran (Endang Firdaus)

Formulanya tidak asing, tiga bersaudara perempuan dan pangeran yang mencari istri. Cerpen ini masih mengajarkan tentang kepedulian pada sesama.

Catatan:

1. Akan semakin menarik bila yang dermawan ini Mawar/Melati, walaupun perilaku kedua kakak Melur dalam cerpen ini tidak menerapkan stigma bahwa yang bungsu baik hati sedangkan kakak-kakaknya jahat.

2. Perlu dijelaskan mengenai muasal kurcaci yang membawakan hadiah-hadiah dari cerobong asap. Bagaimana mereka dapat mengetahui keinginan Melur dan kakak-kakaknya?

Terakhir, tanpa mengurangi rasa hormat kepada penerbit, tata letak sampul yang cantik akan semakin apik apabila yang ditonjolkan adalah nama-nama depan pengarang, misalnya ‘Novi’ bukan ‘Kurnia’ karena pemakaian nama belakang relatif tidak lazim di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s