Peter dan Penangkap Bintang

Penulis: Dave Barry dan Ridley Pearson
Penerjemah: Maria Masniari Lubis
Penerbit: Qanita
Tebal: 492 halaman
Cetakan: I, April 2007
Beli di: Mizan sale Gramedia Merdeka, Bandung
Harga: Rp 25.000,00

Dave Barry identik dengan bocah berwajah tampan [manis?] yang tidak pernah menua dan suka melayang-layang bersama peri mungil bernama Tinkerbell, yakni Peter Pan. Novel ini adalah prekuelnya. Peter masih berstatus seorang anak yatim piatu yang diberangkatkan dengan kapal Never Land bersama beberapa teman senasib. Di sana ia berkenalan dengan seorang gadis cilik bernama Molly, yang ternyata salah satu Penangkap Bintang. Selain mempertahankan kebutuhan perut teman-temannya, Peter kemudian terlibat dalam urusan rahasia yang cukup penting bersama Molly.

Plot novel ini terbilang agak lambat, karena banyaknya deskripsi khas novel fantasi. Tetapi menu petualangan di dalamnya cukup membantu. Saya membaca sambil membayangkan sosok Peter Pan yang pernah ditonton di film [bukan versi Robin Williams, tentunya]. Peter bahu-membahu dengan Molly dan Alf, seorang awak kapal yang bersimpati kepada mereka berdua, untuk menyelamatkan sebuah peti berisi serbuk bintang dari ancaman Yang Lain. Ternyata banyak pihak menghendaki peti tersebut, di antaranya Black Stache si bajak laut sadis. Bagian ini mengingatkan saya pada perebutan tahta di novel Stardust-nya Neil Gaiman.

Bagi yang menyukai fantasi beraroma petualangan, terutama pembaca anak-anak, akan sangat menggemari Peter dan Penangkap Bintang kendati ada sub plot yang ‘mendewasa’ seperti kecemburuan Molly pada Teacher si duyung karena dipuji cantik oleh Peter.

Ilustrasi dalamnya memicu imajinasi untuk kian menghayati novel ini, walaupun tebalnya lumayan ‘mengerikan’ bagi yang kurang hobi baca. Favorit saya adalah saat Molly berkomunikasi dengan lumba-lumba dan terus membuat kesalahan dengan mengatakan, “Gigi Molly hijau.” Juga ketika putri duyung ditampilkan dalam sosok berbeda, tidak secantik bayangan para penikmat dongeng.

Pendek kata, tidak rugi sama sekali bagi saya untuk bersabar hingga bursa Mizan mendiskon harga novel ini lumayan besar. Apa lagi melihat harga barunya, pasca kenaikan kertas belum lama ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s