Si Samin

Penulis: Mohammad Kasim
Penerbit: Balai Pustaka
Tebal: 133 halaman berilustrasi
Cetakan: ke-10, 2004
Beli di: Tisera, Jatinangor Town Square
Harga: Rp 12.500,00

“Alangkah lamanya, mak,” kata si Samin, “si Ramlah sudah lapar.”
“Barangkali abang si Ramlah yang lebih lapar lagi,” jawab maknya
menyindir si Samin.

(halaman 41)

Novel anak-anak satu ini menggulirkan cerita dari keseharian yang
sangat natural. Samin mengakali adiknya untuk mendapat jagung rebus
tambahan, bergembira mendapat gulai ayam, dan memijat kaki bapaknya
bersama sang adik tercinta. Bab-bab awal mengisahkan aneka permainan
khas anak lelaki, sehingga berkesan ‘boys banget’. Mungkin karena
Mohammad Kasim menyadari bahwa bahasa Melayu yang digunakan dalam buku
ini relatif sulit dicerna oleh pembaca, sehingga memberi kesempatan
mengerti sedikit demi sedikit melalui cerita yang ringan dahulu.

Sejak cerita keempat, saya mulai terbiasa dan dapat menikmati novel
anak-anak yang dicetak pertama kali tahun 1924 ini. Kemesraan hubungan
keluarga Samin, ibu dan ayahnya yang menyayangi kedua buah hati mereka
hingga memperhatikan permainan paling sederhana sekalipun, sungguh
mempesona.

“Lamlah tidak mau jadi anak laja, Lamlah anak bapak dan anak mak,”
jawab budak yang belum mengenal kemuliaan dunia itu.
“Ala, bodoh si Malah ini, tidak mau jadi anak raja?” kata si Samin
mencampuri percakapan itu. “Anak raja senang sekali, duitnya banyak,
hari-hari makan ayam.”
“Kalau si Samin ini, tak lain daripada memikirkan pengisi perut saja,”
kata mak si Samin dari balik dinding.
“Ya, abang ini lakus benal, endak makan ayam saja seperti musang,”
kata si Ramlah.

(halaman 54)

Kisah bersetting Sumatra Barat ini banyak merekam polah anak-anak yang
lugu dan belum tersentuh modernisasi. Seperti cara mereka menafsirkan
istilah baru, ketidaksabaran Samin menanti pekan, mondar-mandir
menjual durian supaya mendapat untung, yang kemudian direspon bapak
Samin dengan mengajari anaknya berdagang api-api (korek api) pada
pekan berikutnya. Sebuah pembelajaran untuk mandiri sejak dini yang
disampaikan dengan menggelitik, antara lain dengan dialog di bawah
ini:

..”Waktu orang tua itu lagi muda, aku pun lagi muda dan waktu ia
mendapat ikan itu aku pun sedang menangguk, beroleh seekor ikan, yang
amat besar pula, dalam perutnya kedapatan sebuah gung, yang amat
besar. Apabila aku palu kedengaranlah bunyinya “bohong, bohong,
bohong.”
(halaman 75)

Kekocakan hadir lagi saat Samin bersekolah dan bercakap-cakap dengan
gurunya dalam kelas.

“Kalau sudah besar, hendak bekerja apa kau?”
“Hendak menjadi orang lepau nasi, engku. Boleh makan kenyang-kenyang,
tidak pernah lapar.”
“Jadi sekarang kau sudah lapar?”
“Ya, engku. Tukang ransum pun kulihat sudah mengantar nasi ke rumah
tutupan.”
(halaman 124)

Walaupun nuansa zaman dahulunya sangat kental, termasuk harga-harga
barang yang masih setali dan serupiah, tema novel ini tidak tergerus
masa. Saya sangat menganjurkan Si Samin dibaca oleh anak-anak karena
mengajarkan hidup sederhana dan betapa hidup dapat berubah dalam
seketika. Temukan kejutannya di akhir novel ini, dan bersiaplah untuk
tersedu-sedu.

Advertisements

9 Comments

  1. Mohon info apakah buku ini masih ada disana?
    Demikian juga apakah ada buku buku thn 60an spt ini.
    Spt Pistol si Mancil, Kisah si Jamal.. Perang Sumpitan dll?

    Terima kasih utk sharing dan membuat blog ini. Sudah lama saya mencari buku ini

    Reply

    1. Terima kasih atas kunjungannya.
      Buku seperti ini sudah tidak ada, saya menemukannya tidak sengaja di toko buku yang kecil sekali dan tinggal satu eksemplar. Maaf tidak bisa membantu.

      Reply

  2. Terima kasih utk balasannya.
    Kalau tidak keberatan apakah blh di foto copy kan?
    Anda di Bandung atau di Jakarta?
    Salam sejahtera
    th

    Reply

  3. salam kenal ya…dulu aku waktu kecil punya juga buku ini..tapi sdh hilang entah kemana bisa gak di fotocopy ? klu bisa kasihtau aku ya..trmkasih loh klu mau bantu..ini salah satu buku cerita yang aku suka dari dulu..aku klu ketoko buku cari2 buku ini gak pernah dapat.

    Reply

  4. pengen sekali bisa membaca tulisan buyut ku :’) bangga menjadi keturunannya walau sudah generasi ketiga , semoga suatu hari sebelum aku menutup usia aku bisa membaca karya buyutku seperti mbak rini , dan semoga kelak aku bisa menceritakannya menjadi sebuah dongeng untuk anak anakku kelak . aamiin

    Reply

    1. Wah, senang sekali blog saya ditandangi cucu beliau. Terima kasih Mbak, semoga harapannya terkabul, aamiin:)

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s