Tamasya Panci Ajaib

Judul asli: Kastrullresan
Judul versi Inggris: The Saucepan Journey
Penulis: Edith Unnerstad
Penerjemah: Priscilla Tan Sioe Lan
Penerbit: PT Gramedia (kini Gramedia Pustaka Utama)
Tebal: 256 halaman
Cetakan: I, April 1988
Beli di: GM Merdeka Bandung
Harga: sekitar dua ribu rupiah (tahun 1988)

Profil keluarga Lars Larsson, penutur kisah ini, sudah amat unik.
Ayahnya, Patrik, seorang penemu sekaligus sales jarum. Ia trampil lagi
berbakat. Sang Mama, Maya Persson, adalah mantan pemain teater yang
gandrung karya-karya Shakespeare. Ia bersedia meninggalkan panggung
untuk menikahi Patrik dengan perjanjian dapat memberikan nama dari
gubahan dramawan Inggris itu kepada anak-anak mereka. Karena tersentuh
oleh sikap mengalah suaminya, Mama memperbolehkan Papa memberi nama
anak-anak lelaki.

Keluarga mereka besar, dengan tujuh putra-putri (atau putri-putra,
sesuai urutan lahirnya). Desdemona alias Dessi yang mahir melukis,
Miranda alias Mirre si rambut panjang, Rosalind penggemar berkuda dan
berenang, Lars, Knutte yang hobiis mainan pesawat, Pysen yang nama
aslinya Patrik junior dan gemar melahap kertas, juga O Mungil atau
Ophelia yang masih bayi. Mereka berdesakan di apartemen sempit untuk
pasangan beranak satu, meskipun hidup bahagia.

Papa dan Mama mengambil keputusan besar setelah salah satu kerabat
mereka, Paman Enok (yang digelari Paman Bir oleh Lars), meninggal dan
mewariskan kereta beserta sepasang kuda. Ide Mama adalah melakukan
perjalanan ala rombongan sandiwara keliling menuju kota kediaman
saudaranya, Bibi Bella, sekaligus memasarkan panci ajaib hasil karya
Papa yang dinamai Peep. Disebut begitu karena Peep selalu melengking
jika masakan di dalamnya matang.

Novel bergenre petualangan ini kaya akan pesan mendidik. Edith
Unnerstad menuturkan betapa kompaknya Lars dan saudara-saudaranya
sehingga terbiasa mendukung gagasan orangtua mereka, termasuk
membantu menjualkan Peep. Mereka bergiliran mengasuh O Mungil dan
Pysen, serta melakukan tugas-tugas rumahtangga tanpa mengeluh.
Imajinasi pengarang kian kuat kala karakter Bibi Bella muncul. Seorang
pengelola binatu yang berbadan tinggi besar dan baik hati, dilukiskan
dengan hidup berikut aktivitas kerjanya sehari-hari.

Muatan humor pun terasa di sana-sini. Pysen yang asyik menggambari
sisi kereta dengan cat sampai ke badan. Mama yang sesekali menyitir
kalimat dari naskah drama pada situasi yang ia rasa tepat. Persson si
kucing yang sering dijadikan ‘benteng’ oleh Bibi Bella untuk menolak
laki-laki pengganggu. Edith Unnerstad bercerita dengan lancar tanpa
melupakan ketegangan kisah petualangan yang sesuai porsi anak-anak
usia tanggung (sepuluh tahun ke atas), misalnya Rosalind yang nekad
mengajak si kuda Lotta berenang ke tengah danau dan membuat kehebohan
serta keberanian Lars menghajar pencuri yang menyelinap ke dalam
kereta. Penerjemahan yang lentur menjadikan saya kian larut, dengan
sisipan kosakata non baku khas anak-anak tahun 88 (ketika saya
dibelikan novel ini oleh Bapak).

Advertisements

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s