Witches, Wizards and Magical People

Penulis: John Patience
Penerbit: Peter Haddock Ltd
Tebal: 112 halaman
Tahun: 2001

Buku berukuran sedikit lebih besar dari majalah ini terdiri dari empat bab utama:

1. Hubble Bubble (A Book of Witches and Wizards).
Menyimak bab ini, pembaca akan mengetahui bahwa ‘witch’ adalah sebutan untuk penyihir perempuan [atau perempuan penyihir] sedangkan ‘wizard’ untuk yang berjenis kelamin lelaki. Keduanya merupakan ‘tokoh’ dunia sihir dan fantasi yang nyaris tak pernah ketinggalan. Bab ini menyisipkan pula puisi mengenai kucing hitam bernama Esmeralda, hewan yang kerap dikait-kaitkan dengan mistik.

Cerita tidak melulu menyangkut penyihir jahat yang menguasai manusia atau penyihir baik hati yang menolong orang lain, tetapi juga sesama penyihir yang sering bertengkar hebat. Kisah paling memukau sekaligus mengundang gelak tawa dalam bab ini ialah puisi The Frog Prince. Diutarakan bahwa seorang penyihir iseng mengubah kodok menjadi pangeran, sehingga puisi diakhiri dengan kalimat tidak biasa,
I must bid farewell to contentment,
And marry some silly princess!

2. Dragon Tales (A Book of Dragons)
Tidak semua naga menyeramkan, demikian agaknya pesan John Patience. Maka disuguhkannya cerpen The Enchanted Rock, tentang seekor naga yang menaruh keprihatinan pada rakyat di sekitar dan memberi pelajaran kepada raja yang tamak. Ada pula naga yang menjadi sahabat anak manusia, sehingga malah tidak menemukan wilayah bermukimnya sesama naga. Yang terakhir ini mengingatkan pada Drachenreiter-nya Cornelia Funke.

3. The Little People (A Book of Fairies, Elves and Dwarves)
Cerita anak-anak tidak selalu harus mengangkat karakter anak. Maka dalam bab ini, terdapat cerpen Davey Daydream mengenai seorang pria yang kerap melamun dan berkhayal sehingga ia menelantarkan tugasnya menafkahi keluarga. Para kurcacilah yang menunjukkan kepadanya bahwa apa yang nampak indah dalam bayangan, tidak selalu manis dikecap dalam kenyataan.

4. Tall Stories (A Book of Giants).
Cerita yang sangat bernapas kanak-kanak adalah The Giant Who Couldn’t Sleep. Untuk menolong sahabat barunya, Ben dan penduduk desa membuatkan boneka beruang yang dapat dipeluk sehingga si raksasa terlelap dan tidak gelisah lagi. Penutup kisah ini tetap logis karena raksasa mendengkur dan dapat diatasi dengan cara yang ‘biasa’.

The Greedy Giant and the Miserable Princess pun tergolong mendidik. Itu terlihat pada kalimat, ‘And did the kitchen lad marry the beautiful princess Priscilla? No, I’m afraid he didn’t.’ Tanpa bermaksud mengajarkan kesenjangan sosial, menurut saya cerita anak-anak sebaiknya memang lebih memfokuskan pada persahabatan dan keluarga alih-alih cinta dan pernikahan.

Buku ini istimewa dengan ilustrasi yang memikat penglihatan, warna-warni menyenangkan, ditambah lagi ragam puisi berrima dan bahasa Inggrisnya relatif tidak menyulitkan untuk pembaca kanak-kanak. Kekurangannya satu saja: ketiadaan nomor halaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s