The Lottie Project

undefined
Judul terjemahan: Buku Harian Lottie
Penulis: Jacqueline Wilson
Penerjemah: Novia Stephanie
Tebal: 280 halaman berilustrasi
Cetakan: I, Januari 2006
Beli di: Togamas, Bandung
Harga: Rp 27.200,00 (setelah diskon 15%)

Di sekolah, Charlie alias Charlotte Enright menghadapi problema baru.
Ia kesulitan beradaptasi dengan guru kelasnya, Miss Beckworth, yang
bersikeras memanggilnya Charlotte dan mendudukkannya sebangku dengan
Jamie Edwards semata untuk mengurutkan absensi. Pupus sudah rencana
Charlie untuk duduk sebangku dengan Angela atau Lisa, kedua
sahabatnya. Jamie bukan saja sangat cerdas dan tidak menyenangkan
sebagai teman. Charlie tidak ingin berbicara sepatah kata pun
dengannya. Ia membenci laki-laki.

Di rumah, Charlie adalah sahabat yang nyaris sebaya dengan ibunya. Ia
memanggil sang ibu Jo dan bukan Mama, karena usia mereka begitu dekat
hingga kerap disangka kakak-adik. Jo melahirkan Charlie tanpa suami,
membesarkannya seorang diri kendati orangtuanya menentang keras.
Karena itulah Charlie kurang akrab dengan kakek dan neneknya walaupun
berusaha menghormati mereka demi Jo.

Dengan pemaparan yang cantik, Jacqueline Wilson melukiskan bahwa
kehidupan seorang gadis cilik tidak sesederhana yang kita bayangkan.
Charlie harus mendengarkan keluh-kesah ibunya mengenai pekerjaan,
turut memikirkan ekonomi keluarga, membela Jo di depan kakek dan
neneknya, belum lagi adaptasi masa pra remaja tatkala Angela dan Lisa
mulai puber sehingga ia merasa ditinggalkan. Seakan belum cukup berat,
Miss Beckworth memberi tugas sejarah Victoria yang dianggap Charlie
membosankan sehingga ia bersikukuh untuk mengerjakannya dengan gayanya
sendiri.

Bab demi bab diselingi ‘cicilan’ karya Charlie untuk memenuhi tugas
sejarahnya itu. Ia mentransformasi diri sebagai Lottie, seorang
pelayan yang masih terbilang kanak-kanak dan menjadi tulang punggung
keluarga. Charlie giat menambah referensi dan memadukannya dengan
imajinasi yang bersumber dari peristiwa hidupnya sendiri. Kala ia
membantu Jo mengasuh Rosen, ia ‘menerjemahkan’ bebas dengan menjadikan
Lottie sebagai pengasuh anak-anak orang kaya serta menjalani pekerjaan
penuh tekanan. Angela dan Lisa merupakan representasi Mrs. Angels dan
Eliza, kedua pelayan senior yang disebut-sebut sebagai rekan kerja
Lottie.

Titik balik paling memukau dalam novel ini ialah perkenalan Charlie
dengan si kecil Robin. Ia yang terbiasa menggenggam kehidupannya
berdua saja dengan Jo dan merasa selalu saling memiliki dihadapkan
pada sebuah fakta baru: tidak semua (anak) laki-laki menjengkelkan.
Robin memiliki kisah pahitnya sendiri, diabaikan oleh sang ibu yang
meninggalkan ayahnya.

Walaupun karakter utamanya seorang siswi SD, novel ini lebih layak
dikonsumsi remaja. Pasalnya, terdapat ilustrasi gamblang yang
menggambarkan adegan berciuman di beberapa halaman.

Secara keseluruhan, The Lottie Project menghadirkan cerita yang kocak
dan segar. Tetapi ada saat-saat mengharukan dan amat menyentuh hati.
Penerjemahan yang lincah membantu aliran kisah Charlie semakin lancar
diserap, dengan istilah-istilah ‘dobel ih’, ‘bosan bosan bosan’,
‘kecil-mucil’ dan sebagainya yang saling mendukung secara harmonis
dengan ilustrasi Nick Sharratt. Kadang-kadang saja saya mengerutkan
kening kala menemui ‘ultra-mengesalkan’, namun agaknya begitulah
yang terdapat di naskah aslinya.

Karya Jacqueline Wilson satu ini memperkaya cakrawala wawasan perihal
proses tumbuh kembang seorang anak perempuan dengan aneka masalahnya
kala berbenturan dengan sahabat, orangtua dan kenalan-kenalan baru
yang membuatnya mengubah cara pandang.

sumber foto kaver: gramedia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s