Titipan Kilat Penyihir

undefined
Judul asli: Kiki’s Delivery Service/Majyo No Takkyu Bin
Penulis: Eiko Kadono
Ilustrasi: Akiko Hayashi
Alih bahasa: Dina Faoziah dan Junko Miyamoto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 232 halaman
Cetakan: I, Juni 2006
Beli di: Tisera, Jatinangor
Harga: Rp 32.000,00

Sihir-menyihir merupakan bagian yang cukup familiar dalam peta kisah
fantasi, tetapi seperti apakah penyihir yang ditulis oleh pengarang
Jepang? Pertanyaan tersebut mendorong saya membeli novel ini, ditambah
judulnya yang menggelitik karena sama dengan nama perusahaan jasa
kurir langganan.

Karakter sentral novel ini adalah seorang penyihir cilik bernama Kiki.
Sesuai tradisi, ia harus berkelana dan menetap di kota lain begitu
menginjak usia tiga belas tahun. Kiki membawa serta kucing penyihir
bernama Jiji, yang seumur dengannya.

Banyak gagasan baru disajikan dalam karya Eiko Kadono ini. Ciri-ciri
khas yang diyakini masyarakat umum tetap berlaku, seperti pakaian
serba hitam dan kucing berbulu hitam. Juga sapu yang digunakan untuk
terbang. Namun dikisahkan bahwa generasi penyihir kian langka dan
kemampuannya pun terbatas, sehingga Kokiri-san, ibu Kiki, hanya dapat
mengajarkan ilmu terbang dan meramu jamu sebagai obat. Tidak ada
mantra untuk menyulap sesuatu. Justru segi ini menjadikan kisah si
penyihir cilik istimewa, memikat dan sangat cocok untuk pembaca
anak-anak.

Pertentangan kecil antara ibu dan anak digambarkan saat Kiki
berkeinginan menggunakan sapu desainnya sendiri, juga kostum
warna-warni yang menyalahi aturan. Di kemudian hari, si penyihir cilik
menyesali kebandelan dan ketidakseriusannya menyimak ajaran Kokiri-san
sehingga ia tidak ingat ramuan obat untuk menangkal hawa dingin.
Sebuah pesan moral sederhana namun mendalam.

Cerita-cerita dirangkai dengan topik upaya Kiki menjalankan usaha
titipan kilatnya, yang berasal dari gagasan Osono-san, induk semangnya
di kota Koriko. Sesuai pesan sang ibu, Kiki harus hidup bermasyarakat
dan saling membantu dengan warga sekitar. Penyihir harus dapat
diterima oleh tetangga dan menerima imbalan jasa secukupnya untuk
makan-minum. Artinya, tidak menetapkan tarif. Keengganan Kiki menerima
order aneh-aneh seperti menyampaikan ejekan kepada orang lain
menunjukkan bahwa penyihir tidak selalu jahat, seperti pemikiran
orang-orang yang tinggal di Koriko. Malah ada yang terkejut mendapati
Kiki adalah gadis kecil yang manis, bukan monster mengerikan.

Bagian favorit saya adalah perkenalan Kiki dengan Mimi. Ia tertarik
untuk mengetahui perilaku gadis biasa (bukan penyihir) dan pesan
rahasianya untuk Aikun. Saya tergelak-gelak kala Kiki dan Jiji
berusaha menulis ulang isi surat Mimi yang diterbangkan angin. Sama
halnya dengan pertemuan pertama Kiki dan Tombo-san. Gadis kecil itu
memarahi Tombo-san yang mengambil sapu terbangnya dan menuntutnya
minta maaf minimal sejuta kali.

Nilai yang dianut masyarakat Jepang, khususnya penghormatan pada
orangtua, terlihat saat Kiki mengantarkan setagen rajutan kepada
seorang kapten kapal. Kendati ia sangat kesal oleh desakan ibunya, toh
ia berjanji akan memintakan maaf karena setagen-setagen lain dikenakan
di tubuh botol anggur agar tidak bersenggolan. Pelajaran bisnis yang
diberikan Osono-san kepada Kiki, mulai dari pemilihan nama sampai
nomor telepon 123-HAIHAI, tak kalah mengasyikkan.

‘Titipan Kilat Penyihir’ adalah bacaan yang tepat dan bermanfaat untuk
anak-anak, serta cocok pula untuk orang dewasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s