Adikku yang Nakal

Penulis: Dorothy Edwards
Ilustrator: Shirley Hughes
Penerjemah: Listiana (alm.)
Penerbit: PT. Gramedia
Tebal: 92 halaman
Cetakan: I, 1982

Saya pertama kali membaca salah satu cerpen dalam buku ini berupa sisipan Majalah Bobo, sekitar 28 tahun yang lampau. Judulnya Adikku yang Nakal ke Pesta, dan terus melekat di benak sehingga menimbulkan pertanyaan: seperti apakah puding spons itu? Bola-bola peraknya? Gula-gulanya? Agaknya enak sekali, walaupun di cerpen ini sang karakter adik dikisahkan sakit perut karena memakannya terlalu banyak.

Syukur alhamdulillah, saya menemukan bukunya di toko Gunung Agung Palaguna [Alun-alun, Bandung] yang kini sudah pindah. Kemudian saya mengoleksi kedua buku selanjutnya, Adikku yang Nakal dan Harry Bengal serta Teman-teman Adikku yang Nakal.

Tidak terlalu jelas berapa usia tokoh Adik dalam buku ini, namun tebakan saya adalah kisaran balita. Yang dirasakan adalah keasyikan kisah-kisahnya, lantaran budaya yang berbeda, kendati waktu membacanya saya berusia kurang lebih sama dengan Adik. Bahkan sempat terpikir bahwa dia adalah adik penulisnya sendiri, Dorothy Edwards yang ternyata berpulang tepat pada tahun yang sama ketika edisi terjemahannya ini diterbitkan oleh Gramedia.

Cerita favorit saya antara lain adalah Adikku yang Nakal Sakit [hal. 17]. Semasa kecil, saya pun sering sekali sakit walaupun tidak selalu ke dokter. Saya tidak berteman dengan tukang minyak, tukang kebun, dan tukang roti seperti Adik, namun saya berusaha minum obat tanpa rewel seperti dia agar cepat sembuh.

Dalam Gigi Goyah [hal. 31], Edwards menghadirkan penutup yang lucu. Sungguh pandai dokter gigi [yang sampai kini masih membuat saya grogi dan takut] mengemukakan alasan bahwa gigi goyah yang bagus perlu ditanggalkan karena ia mengoleksinya.

Boneka Bidadari
membuat saya teringat boneka perempuan yang dipatahkan berulang kali oleh adik. Jika sang kakak di cerpen ini memetik hikmah dengan perubahan fisik si boneka sehingga ia dapat bermain leluasa daripada sebelumnya, sisi cerah bagi saya setelah tidak lagi dibelikan boneka [karena selalu memancing perkelahian antara saya dan adik] adalah makin tertariknya saya pada buku.

Saya deg-degan membaca Adikku yang Nakal Menggunting-gunting. Terpesona oleh sikap manisnya yang sangat sopan dalam Adikku yang Nakal ke Sekolah. Peran lain buku ini adalah membantu saya belajar menulis. Sampai kini masih penasaran: font-nya bernama apa, ya? Bagus sekali, besar-besar, jarang dan tegak lurus:)

Cerpen paling berkesan adalah Ayah Menjaga Adikku yang Nakal. Saya bertanya-tanya, apa gerangan pekerjaan beliau sehingga memiliki ruang kerja sendiri dan bisa mengangkut meja-kursi di kebun sambil mengawasi anak? Pasalnya, Bapak dulu tidak pernah begitu. Walaupun saya ingat bahwa sewaktu kanak-kanak sering memusingkan Bapak kala dijaga, mau tak mau tertawa juga membaca kalimat ini, “Syukurlah, aku bisa bekerja lagi tanpa harus ber-kon-sen-tra-si pada anak yang merepotkan ini.” [hal. 80]

Terima kasih, Ibu Listiana, karena telah mengolah dengan sangat baik buku yang tidak pernah bosan saya baca ini:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s