Belajar Berempati dari Black Beauty


Judul: Black Beauty
Penulis: Anna Sewell
Penerjemah: Nadiah Abidin
Penyunting: Azzura Dayana
Desain sampu: Windu Tampan
Penata letak: Nurhasanah
Pemeriksa aksara: Erdyant
Penerbit: Orange Books
======================
“Walk a mile in someone’s shoes,” begitulah petuah lama mengatakan. Karena dengan ‘mengenakan sepatu orang lain’ kita akan mampu memandang hal-hal dari sudut pandang yang berbeda.
Seperti yang dilakukan Anna Sewell. Mengalami kecelakaan di usia 14 tahun saat pulang sekolah, menyebabkan kaki Anna pincang selama sisa hidupnya. Demi memfasilitasi mobilitas hariannya, Anna pun menggunakan kereta kuda. Yang mempertebal empati dan kecintaannya pada kuda, juga membuat putri dari seorang penulis cerita anak ini makin peduli pada isu perlindungan hewan.
Tema sentral yang kemudian diangkatnya dalam novel pertama sekaligus satu-satunya novel yang pernah ditulisnya: Black Beauty.
***
Bertutur dari sudut pandang orang pertama, Black Beauty berkisah mengenai pengalaman hidupnya yang selalu berpindah rumah dan pemilik. Sebagai kuda jantan dari keturunan terbaik, Beauty telah banyak menjalani beragam profesi. Mulai dari kuda tunggangan, kuda pedati, hingga kuda taksi.
Setiap pekerjaan selalu dijalani Beauty dengan tabah dan sabar. Bahkan saat ia menemui hal-hal buruk, seperti penggunaan blinkers yang menghalangi pandangan, check-rein yang membuat kepala tak bisa bergerak bebas, bit yang tajam di lidah dan rahang, dipecuti, lupa diselimuti dan dihangatkan usai melakukan perjalanan jauh yang melelahkan—yang membuat Beauty mengalami infeksi paru-paru kemudian, dan banyak hal menyedihkan lain yang juga dialami oleh kuda-kuda lain yang ditemui Beauty.
Namun Beauty tak pernah lupa pesan Ibunya: “..manusia ada banyak macamnya. Sebagian manusia baik dan penuh perhatian seperti tuan kita, sebagian lagi jahat dan kejam hingga tak pantas memiliki kuda atau anjing. Selain itu, ada orang-orang yang dungu, sombong, bebal, dan sembrono; orang-orang yang terlalu malas berpikir. Orang-orang inilah yang paling banyak mencelakai kuda dibandingkan orang-orang lainnya. Mereka mungkin tak berniat mencelakai kita, tapi jadinya begitu karena tabiat mereka. Aku harap kelak kau dapat tuan yang baik. Masalahnya, seekor kuda tak pernah tahu siapa yang akan membelinya atau siapa yang akan menunggangnya. Maka apapun yang terjadi pada kita, tetaplah lakukan yang terbaik dan jaga nama baikmu.” (hal 22)
***
Empati Anna Sewell yang demikian besarnya pada binatang sangat tersurat dalam buku yang ditulis selama sekitar enam tahun ini. “It’s a special aim being to induce kindness, sympathy, and an understanding treatment of horses.” ujar Anna mengenai tujuannya menulis buku ini.
Dengan penuturan detil, santun, dan mendalam, saya merasa Beauty seolah-olah adalah seorang manusia yang berbicara dengan bahasa manusia—dan bukannya seekor kuda.
Saya turut merasa bahagia saat Beauty memperoleh kandang yang nyaman dengan pencahayaan bagus dan lapang. Sama bahagianya saat Beauty memperoleh makanan sedap berupa gandum tumbuk yang dicampur dedak, atau saat Beauty bisa bebas berlarian dan berlompatan di padang rumput.
Tak jarang, hati saya mencelos dan mengurai air mata saat membaca kalimat yang menggambarkan penderitaan para kuda akibat ulah manusia. Seperti: “..bit milikku sangat tajam. Lidah dan rahangku sampai sakit. Darah dari lidah mewarnai liurku yang terus-terusan mengalir di bibir saat aku bergerak resah dan terbuka oleh bit dan kekang yang terpasang pada mulut. Yang paling parah saat kami harus berdiri berjam-jam di luar untuk menunggu nyonya kami yang tengah menghadiri pesta besar atau tempat hiburan. Setiap kali aku resah dan mengentakkan kaki karena tidak sabar, sebuah pecut siap menghukumku. Itu saja sudah cukup untuk membuatmu gila.” (kisah Ginger pada Beauty, hal 50).
Juga saat Beauty di puncak lara: “Oh! Kalau saja manusia punya belas kasihan, mereka sebaiknya menembak kami saja sebelum kami jatuh dalam kesengsaraan berkepanjangan.” (hal 303)
Betapa Anna mampu menyuarakan harapan Beauty dengan sangat gamblang: “Oh! Seandainya saja orang tahu betapa kuda-kuda menjadi tenang karena sentuhan tangan lembut, suara lembut dan perangai lembut, tentu mereka tak perlu melecutkan cemeti, menyeret dan menarik tali kekang seperti yang biasa mereka lakukan..” (hal 64).
***
Ditulis saat Anna berusia sekitar 50 tahun, membuat Black Beauty juga sarat akan nilai-nilai kehidupan yang tak lekang dimakan zaman. Beberapa diantaranya adalah:
Tentang hubungan sosial: “Ibu memberitahuku bahwa baik buruknya perlakuan orang terhadapku tergantung pada perangaiku sendiri. ‘Semakin baik perangaimu, semakin baik perlakuan orang terhadapmu,’ begitu katanya.” (pesan Ibunda Beauty pada Beauty , hal 22)
Tentang agama: “Tak ada agama yang tanpa cinta dan orang-orang bisa berbicara sesukanya tentang agama mereka, tapi kalau agama itu tak mengajari mereka untuk bersikap baik kepada manusia dan binatang, semuanya cuma pura-pura. Pura-pura, James, dan semua takkan bertahan ketika kebenaran muncul.” (ujaran John Manly pada James, setelah John melihat seorang anak kecil menendan dan memukul seekor poni kecil—hanya karena si poni tak mau melompati pagar yang terlalu tinggi untuknya, hal 90).
Tentang politik: “Kebebasan tidak datang dalam bentuk warna. Warna hanya menunjukkan partai dan segala bentuk kebebasan yang bisa kau terjemahkan darinya..Pemilihan adalah sesuatu yang sangat serius. Paling tidak seharusnya begitu dan semua orang wajib memilih sesuai dengan hati nuraninya dan membiarkan para tetangganya melakukan hal yang sama.” (ujaran Jerry pada putranya, menjelang masa Pemilihan, hal 314)
Tentang kepedulian: “Kau telah melakukan hal yang benar, entah orang itu dihukum atau tidak. Banyak orang yang mungkin hanya akan lewat dan mengatakan bukan urusan mereka untuk ikut campur. Padahal ketika ada kejahatan dan penindasan, urusan semua orang untuk ikut campur saat melihatnya.” (ujaran John Manly pada Joe, saat Joe melaporkan seorang sais mabuk yang memecuti kedua kudanya yang tengah terjebak dalam lumpur, hal 136)
Tentang penyesalan: “Kalau kau menyia-nyiakan waktu pagi hari, kau takkan mampu menggantinya di pertengahan hari. Kau bisa saja tergesa dan bergegas, bingung dan cemas, tapi kau telah kehilangan waktu itu, saat ini dan selamanya.” (ujaran Jerry setiap pagi sambil melakukan rutinitasnya membersihkan kuda-kudanya, hal 254).
Tentang menangani karakter sulit: “Ramuannya terdiri dari kesabaran, kebaikan, ketegasan dan belaian yang masing-masing disajikan satu pon dengan diimbuh setengah takaran akal sehat dan keadilan..” (lelucon kecil John Manly tentang ramuan rutin “hati Birtwick” untuk menyembuhkan kuda bengal, yang masih relevan dengan hubungan sesama manusia, hal 55).
Bahkan tentang pentingnya beristirahat: “Itu hak semua orang dan orang dan semua binatang. Berdasarkan hukum Tuhan kita punya satu untuk beristirahat. Berdasarkan hukum Inggris kita juga punya satu hari untuk istirahat. Jadi menurutku kita harus berpegang teguh pada hak-hak yang diberikan hukum-hukum ini dan menghabiskannya bersama anak-anak kita” (tanggapan Truman, saat mendengar Jerry menolak pekerjaan di hari Minggu, hal 270).
***
Naskah Black Beauty dijual Anna pada penerbit lokal pada 24 November 1877 seharga 40 poundsterling. Saat itu ia telah berusia sekitar 57 tahun. Sayangnya, lima bulan setelah novel itu terbit, Anna meninggal karena penyakit hepatitis dan TBC. Ia tak sempat menyaksikan kesuksesan Black Beauty yang merupakan salah satu novel paling laris sepanjang masa.
Dan betapa saya bersyukur bahwa novel indah ini pada akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan demikian halus dan indahnya. Demikian halusnya sampai saya merasa seolah-olah sedang membaca karya anak bangsa.
Dari segi sampul, sampul Black Beauty ini juga yang paling memikat saya. Dari sekian versi sampul Black Beauty yang pernah saya lihat, baru kali ini saya melihat versi Black Beauty dalam pose dielus telinganya oleh seorang gadis kecil. Sungguh suatu pemandangan yang menghangatkan hati.
Sama hangatnya saat saya membaca kalimat-kalimat agar kita terus berbuat baik pada sesama. Di halaman 114, misalnya.“Tak ada yang lebih baik daripada berbuat kebajikan kepada orang lain saat aku masih bisa melakukannya dan aku akan dengan senang hati melakukannya.” (Wejangan John Manly pada James)
Atau kalimat yang bisa diterapkan secara universal, yang terletak di halaman 273 “Sesuatu yang benar pasti bisa dilakukan; sesuatu yang salah pasti bisa ditinggalkan. Seorang manusia yang baik selalu akan menemukan jalan terbaik. Dan itu berlaku buat kita semua, entah buat supir taksi ataupun orang-orang yang biasa pergi ke gereja atau kapel,” (ujaran Jerry Barker)
Membaca kalimat-kalimat ini mengingatkan saya pada puisi Taufik Ismail yang saya peroleh dari sms Ain, sahabat saya, empat tahun lalu:
“Kalau engkau tak mampu jadi beringin yang tegak di puncak bukit, maka jadilah belukar. Tapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau. Kalau kamu tak sanggup jadi belukar, jadilah saja rumput. Tapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Kalau kau tak mampu jadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil. Tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air. Tidak semua menjadi kapten, harus ada awaknya. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Jadilah dirimu..sebaik-baiknya dari dirimu sendiri.”
Sepuluh bintang untuk buku Black Beauty.
***
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s