Benarkah Semua Beres Kalau Ada Emil?

Judul asli: An Lever Emil I Lonneberga
Penulis: Astrid Lindgren
Penerjemah: Purnawati Olsson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 168 halaman
Cetakan: ke-2, Agustus 2005
Beli di: Bursa diskon GM Merdeka, Bandung
Harga: Rp 10.000,00

undefined
Sudah lama mendengar perihal bocah satu ini, tapi baru sekarang tertarik membacanya. Menilik sinopsis di belakang, saya tidak sepakat bahwa Emil dikategorikan anak kecil yang nakal. Ia sama saja dengan kebanyakan anak sebayanya, iseng dan rasa ingin tahunya besar. Meskipun demikian, pembaca anak memang perlu dampingan orangtua untuk menjelasakan mengapa Lina harus cabut gigi di Pandai Besi. Ada pula materi yang relatif dewasa [ditambah ilustrasi] mengenai kebiasaan Lina mudah ‘nempel’ pria asing.

Buku anak-anak satu ini ‘mendobrak’ format lazim semisal tampilan sampul yang mencorong dan judul bab yang serba panjang. Fontnya masih besar-besar, namun ilustrasinya terkesan mirip karikatur. Bagi penggemar Astrid Lindgren, tentu saja tidak masalah sama sekali. Apa lagi gaya tutur di muka bagaikan dongeng dengan narator yang menggulirkan cerita.

Novel SBKAE lebih banyak menyentil orangtua dan pola asuhnya. Bagaimana sang ayah, yang petugas gereja, murni memperhatikan keuntungan ketika bertransaksi sedangkan hati Emil tergerak membeli Si Pincang Lotta. Perhatikan juga ironisnya kemarahan ayah Emil dalam kalimat ini, “Anak kurang ajar, seenaknya mengajari adikmu mengatakan kata-kata kotor seperti itu!”

Adegan Emil bolak-balik dihukum kurungan di gudang mengingatkan saya pada masa kecil. Sikap spontan Emil menghancurkan botol-botol anggur pesanan yang dibuat ibunya pun menggelikan, karena ia merasa telah berjanji untuk tidak mabuk lagi [meskipun peristiwa mabuk tersebut bukan kesalahannya]. Saya kembali terpingkal-pingkal sewaktu Emil meletakkan tutup panci yang terlalu panas di perut ayahnya. Menurut bocah ini, ia memanaskan sampai hampir sama dengan setrikaan karena belum mampu mengira-ngira suhu yang diperlukan tanpa petunjuk orang dewasa.

Emil adalah karakter yang sangat mengesankan. Saya juga tertarik mengetahui kisahnya menjadi bupati kala dewasa, bila Astrid Lindgren menulis ceritanya:)

Advertisements

One Comment

  1. Waktu kecil saya senang sekali membaca buku-buku emil, kalau tidk salah ada 3 buku, saya rasa lucu sekali, sampai saya ceritakan lagi ke kakak, adik dan teman. Anehnya saya tidak pernah memperhatikan dan mengingat kebiasaan lina, mungkin karena waktu itu masih kecil. Ketika telah dewasa kini, saya sempat mini serinya di youtube, baru saya menyadari terganggu dengan kebiasaan lina yang mudah nempel pada pria, padahal ceritanya bagus banget seperti yg saya imajinasikan dulu ketika membacanya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s