Pencarian Jati Diri Seorang Ilmuwan Cilik

Judul: The Evolution of Calpurnia Tate
Penulis: Jacqueline Kelly
Penerbit: Matahati
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Nadya Andwiani
Tebal: 383 halaman
Cetakan : Pertama, November 2010

Menjadi seorang ilmuwan bukanlah pilihan yang populer bagi seorang gadis di abad kesembilan belas. Gadis-gadis di zaman itu disiapkan untuk menjadi istri yang baik, yang menguasai tugas-tugas rumah tangga seperti memasak dan menjahit, juga ahli dalam kerajinan tangan yang mengutamakan keindahan seperti menyulam dan merenda. 

Calpurnia Virginia Tate berusia sebelas tahun dan satu-satunya anak perempuan dari tujuh bersaudara keluarga Tate yang terpandang di kota Fentress, Texas. Ayahnya adalah pemilik kebun kapas ratusan hektar serta satu-satunya pemilik pabrik kapas di wilayah tersebut. Sang ibu tentu mengharapkan putrinya menjadi gadis anggun yang kelak akan menjadi panutan masyarakat.

Namun sejak awal Callie Vee, panggilan Calpurnia, tidak tertarik pada urusan rumah tangga dan kerajinan tangan. Dia senang mengamati alam serta hewan-hewan penghuninya, lalu menuliskannya di buku catatan. Kegemaran ini rupanya dia warisi dari sang kakek, yang setelah sukses membangun kerajaan kapasnya, kini pensiun sepenuhnya dari dunia bisnis dan menjadi naturalis, yaitu orang yang mengadakan penyelidikan khusus mengenai binatang dan tumbuhan.

Sebenarnya kakek Calpurnia bukan orang yang mudah didekati dan bahkan tidak hafal nama cucu-cucunya, tapi minat yang serupa membuat keduanya dekat. Percakapan antara dua generasi yang berlangsung di sepanjang cerita sangat menarik dan terkadang mengundang tawa. Seperti saat mereka membahas pelajaran Perilaku di sekolah Callie, yang mewajibkan murid-murid perempuan berjalan mengelilingi kelas dengan membawa sebuah buku di atas kepala. Kakek pun berkomentar, “Menurutku, membaca buku itu adalah cara yang jauh lebih efektif untuk menyerap isinya.”

Sayangnya, orangtua Callie tidak mendukung keinginan putrinya untuk menjadi seorang ilmuwan. Callie tetap diharuskan memasak, merajut, merenda, belajar piano, dan berbagai kegiatan lain yang tidak disukai anak itu, walaupun hasilnya selalu mengecewakan. Callie kerap memprotes perbedaan perlakuan yang dia terima dari orangtuanya, dan ibunya selalu menekankan bahwa saudara-saudara lelaki Callie tidak perlu belajar memasak, misalnya, karena nanti mereka akan punya istri. Dengan getir, Callie merenung, bisakah aku juga mendapat istri?

Kakek tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Callie, karena tentu tidak mudah mendobrak tradisi dan etika yang berlaku. Dan bagi saya itu malah membuat kisah ini terasa wajar dan masuk akal, karena dalam kehidupan nyata kita memang tidak selalu mendapatkan keinginan kita. Bagusnya, akhir kisah ini memberi kebebasan pada pembaca untuk membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada Callie Vee setelah dia dewasa nanti dan terlepas dari peraturan orangtuanya.

Pemilihan waktu tahun 1899 oleh penulis menurut saya sangat tepat karena pada tahun itu terjadi berbagai peristiwa penting seperti dioperasikannya telepon untuk pertama kalinya di Frentes dan diperkenalkannya kereta bermesin alias mobil. Anak-anak juga bisa mendapatkan gambaran tentang kehidupan di zaman itu, ketika perlakuan untuk orang kulit hitam dan kulit putih masih dibedakan, begitu pula perlakuan untuk anak perempuan dan anak lelaki.

Penulis yang berprofesi sebagai dokter juga menyelipkan pelajaran biologi di sana sini, ketika Callie Vee dan kakeknya menemukan berbagai spesies tumbuhan dan binatang. Namun keceriaan dan kelucuan khas cerita anak-anak tetap dikedepankan, sehingga saya pun ikut tertawa geli saat membaca kehebohan di resital piano, atau kekacauan di dapur saat Callie belajar memasak. Tak heran jika karya perdana Jacqueline Kelly ini meraih Newberry Honor, penghargaan buku remaja terbaik di Amerika.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s