>Coraline, Fiksi Anak Bermuatan Horor

>Penulis: Neil Gaiman
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2005
Tebal: 232 Halaman
ISBN: 979-22-111-x

undefined

Sumber: Wisata-buku.com

Jika Anda seorang gadis cilik yang suka menjelajah seperti Coraline, apa yang akan Anda lakukan kala melihat pintu terhubung ke lorong menuju sebuah flat kosong tepat di sebelah tempat tinggal keluarga? Coraline menyusurinya. Ia sudah bosan dengan para tetangganya yang selalu salah menyebutnya Caroline, duduk diam-diam di ruangan khusus dengan perabot yang membuatnya dilarang bergerak terlalu banyak saat orangtuanya sibuk bekerja di ruangan masing-masing. Coraline mengintip, berkunjung ke tempat Miss Spink dan Miss Forcible yang meramalnya dengan daun teh setelah menjamunya kemudian memberinya semacam batu pelindung.

Di balik pintu itu, Coraline mendapati sebuah rumah. Ada ibu dan ayahnya di sana, akan tetapi mata mereka terbuat dari kancing hitam. Ia menyadari bahwa orangtua sesungguhnya bukan mereka, walau menikmati setiap hidangan lezat dan bermain dengan kucing hitam yang ternyata bisa bicara. Coraline mulai mengerti siapa yang menyanyikan lagu seram belakangan ini. Tapi kemudian orangtua palsu itu ingin mencengkeramnya, menahannya agar tidak kembali ke dunia manusia dan menyekap jiwa Coraline seperti tiga orang anak yang ditemukannya tanpa sengaja. Ia harus berusaha keras menyelamatkan kedua orangtua aslinya, sekaligus melawan makhluk mengerikan yang menyamar sebagai ibunya itu.

Sebuah rumah. Sebuah pintu rahasia. Begitu sederhana titik tolak gagasan Neil Gaiman yang kemudian berkembang dalam nuansa suram imajinasinya, sesuatu yang sangat berbeda di kancah fiksi anak-anak. Ilustrasi Dave McKean memperkental aura mencekam sepanjang cerita, membantu pembaca yang suka berkhayal menjiwai petualangan Coraline yang meyakini bahwa ibu gadungan ini tidak dapat dipercaya. Dengan kemampuan berpikir khas anak-anak, Coraline mencari cara untuk menyelamatkan diri dan orangtuanya.

Karakter yang menawan, terutama ketika ia berani menantang ibu palsunya untuk menemukan jiwa-jiwa lain tanpa bantuan dan tinggal selamanya di dunia mereka jika gagal. Juga saat digoda akan dimanjakan bila tidak pergi, ia membantah, “..Apa enaknya kalau aku memperoleh segala sesuatu yang kuinginkan? Dengan begitu saja, dan semuanya jadi tidak berarti.” (hal. 170-171).

Walaupun cukup menegangkan, porsi horor dalam novel Neil Gaiman ini tidak berlebihan untuk anak-anak. Semua faktor yang berpotensi mendirikan bulu roma tersedia: cermin, sumur, wajah menakutkan, hantu, mimpi, tentunya tanpa darah dan kesadisan. Lagi-lagi Gaiman membuktikan kepiawaiannya meramu sebuah cerita yang spesial dan selalu lain dengan karyanya yang sudah-sudah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s