Aneka Rasa Cerpen Komedi Untuk Anak

sumber: Goodreads

Judul: Detektif Sok Tau!

Penulis: Mirnawati Amir, Dewi Cendika, Tria Ayu K., dkk

Penerbit: Human Books

Tebal: 168 halaman

Cetakan: I, 2010

ISBN: 9786029675153

Saya tidak akan mengomentari kadar kelucuan kumpulan cerpen ini sebab selera humor pembaca teramat beragam. Saya juga berniat melewatkan unsur penyuntingan serta menyerahkan saja kepada tanggung jawab penulis dan editor masing-masing, akan tetapi jika boleh berpendapat, kondisi penyuntingan Detektif Sok Tau! ini terbilang paling ‘mengenaskan’ dibandingkan kedua antologi PBA lainnya.

Dunia anak-anak kerap diasumsikan sebagai wajah kehidupan yang ceria, meski pada kenyataannya tidak senantiasa demikian. Bagaimana para penulis menyajikan segi riang dan dinamis anak-anak dalam cerpen mereka? Berikut sekilas impresi saya.

Adul Anak Betawi (Mirna Amir)

Sepanjang cerita, para tokoh terus bermain teka-teki. Teknik yang meluncurkan plot dan menjadikan cerpen terasa ringan walaupun sayangnya, tidak ada konflik.

Catatan: Emak menggunakan tebak-tebakan udang dengan pernyataan “terdiri dari dua huruf.” Ini membingungkan, maka sebaiknya ditulis “Lima huruf, dimulai dari U.”

Persahabatan Bagai Kedondong (Dewi Cendika)

Cerpen yang cukup panjang ini memotret kekinian, kegemaran anak-anak SD untuk menyanyi di muka umum dan gegap gempitanya tayangan Idola Cilik. Perkara persahabatan dibenturkan dengan adanya ‘kubu lawan’, serta analogi kedondong yang disampaikan dengan baik.

Catatan: Perlu dihindari, terutama dalam cerpen yang ditujukan untuk menggelitik tawa, menambahkan ‘hihihi’ sendiri di akhir kalimat, sebab pembaca akan ‘kehabisan giliran’.

Cabut Gigi Ala Kinoy (Tria Ayu K.)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pergi ke dokter gigi acap kali menciptakan kengerian tersendiri, bahkan bagi orang dewasa. Ide ini diolah dengan gagasan ‘iseng’ anak-anak yang sebenarnya lugu untuk mengatasi penyakit yang paling dihindari tersebut.

Catatan: Akan lebih menarik lagi jika tidak dibuka dengan ‘Donut adalah anak yang rajin’, namun langsung ‘Donut benar-benar berpedoman pada pepatah “rajin pangkal pandai”.

Jilbab Cinderella (Chris Oetoyo)

Sejak kapan Cinderella berjilbab? Upaya penulis untuk mengombinasikan dongeng terkenal di tataran dunia yang tidak lekang zaman dengan nilai-nilai Islam perlu diacungi jempol. Kehadiran peri dan pesta dansa yang menjadi bagian kisah ini tidak dilupakan.

Catatan: Sangat disarankan untuk menghindari dakwah verbal kepada anak-anak, sebagaimana tergambar dalam dialog Cinderella kala meminta kakak tirinya berjilbab. Masalah pernikahan, yang merupakan tujuan diadakannya pesta dansa, menurut saya agak ‘berat’ untuk pembaca anak. Mungkin sebaiknya sub plot ini diganti menjadi perayaan siang hari dalam rangka kesembuhan Pangeran, misalnya, mengingat pesta dansa Cinderella identik dengan tengah malam yang lebih cocok untuk orang dewasa.

Cegukan Cigi (Ryu Tri)

Cerita anak dapat bersumber dari keseharian yang relatif sederhana, seperti mitos cegukan dalam cerpen ini. Suasana riang dan permainan khas anak-anak menjadikannya mengalir dibaca.

Catatan: Mengapa Cigi dan teman-teman masih sanggup makan siang setelah menyantap camilan yang banyak dalam waktu berdekatan?

Kaos Kaki Baihaky (Haya Aliya Zaki)

Judulnya berima, mengundang mata untuk menyimak terus. Yang diusung adalah tema kesehatan dan ini memang perlu diketahui anak-anak.

Catatan: Saya pribadi kurang tahan membaca cerpen yang mengandung cerita menyangkut bau-bauan. Akan lebih mengasyikkan apabila cerpen ini tidak terlalu menyoroti jamur di kaki tanpa menghilangkan pesan akan perlunya mengganti kaus kaki dengan rajin.

Detektif Sok Tau! (Benny Rhamdani)

Kemenarikan cerpen ini adalah lenturnya ‘aku’ sebagai narator, sehingga pembaca merasa didongengi. Sampai akhir, termuat pesan bahwa semangat menjadi detektif perlu dibarengi dengan ketelitian dan jangan mudah curiga tanpa bukti.

Catatan:  Tidak ada yang membuat kening berkerut, kecuali penyuntingannya. Sebut saja di halaman 97, ‘Aku bernafas legas’.

Kantor Bapak (Taufan E. Prast)

Cerpen yang menawan sebab mengangkat keingintahuan anak-anak akan pekerjaan orangtua, meski unsur persaingan yang lahir dari ‘perbandingan’ tidak kentara sehingga tetap edukatif.

Catatan: Akan lebih elok lagi jika tidak dibuka dengan ‘Namaku Dodot’, karena sebenarnya pembahasan nama itu tidak mengganggu bila dihilangkan.

Hanya Minta Satu Saja (Erna Fitrini)

Minta apa? Lumrah memang bila konsep reward and punishment ditafsirkan secara lugas oleh anak-anak, termasuk Anin yang menemukan dompet. Pamungkasnya membiarkan pembaca berpikir sendiri tanpa menggurui.

Catatan: Tidak ada penjelasan mengenai Farid yang menyarankan Anin minta hadiah. Siapakah Farid? Kemudian, mengingat Pak Irawan ini orang asing, agaknya mengagetkan jika ia merangkul bahu Anin karena menemukan dompet. Terlebih tak diceritakan bahwa ada orang lain di rumah Anin saat Pak Irawan datang.

Jono, Eh Jon… (Erawati TF)

Nama sering menjadi perkara. Ulah Jon yang ‘memodernkan’ nama ini adalah fenomena yang bisa ditemui pula pada orang dewasa.

Catatan: Penyelesaian konflik terlalu cepat dan akan lebih meresap bila disampaikan dengan dialog. Selain itu, tentang pekerjaan orangtua Jon sebaiknya disisipkan di pembukaan sebagai perkenalan sehingga tidak memecah fokus paragraf penutupnya.

Tim Lima O: Juice Pineapple (Rani)

Cerpen ini masih diwarnai tebak-tebakan, sebelum kemudian menguak kesalahpahaman akibat satu kata bahasa Inggris.

Catatan: Saya tidak tahu persis kurikulum sekolah sekarang, tapi barangkali siswa kelas lima SD sudah mengetahui arti pineapple. Ini dapat ‘dipelintir’ dengan kesalahan pengucapan yang wajar terjadi.

Detektif Sok Tau! disemarakkan oleh ilustrasi Agus Willy yang relevan dengan cerita dan tiga cerpen bahasa Inggris sebagai bonus, yang menurut saya akan semakin enak dibaca bila penyuntingannya lebih dicermati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s