Ragam Cerita Untuk Anak Indonesia

Judul: 22 Hari Bercerita #2: Buku Kedua Kumpulan Cerita Anak

Penulis: Bellanissa B. Zoditama dkk

Penerbit: Indonesia Bercerita

Tebal: 115 halaman

Saya mendownload e-book-nya dari web Indonesia Bercerita.
Penulis yang lebih dari satu orang sebenarnya membuka peluang untuk eksplorasi ide lebih variatif, sebab pada hakikatnya banyak tema yang dapat diangkat dan diselaraskan dengan kebutuhan anak (tentu dengan berkomunikasi dengan mereka guna mengetahui topik yang diminati, bukan apa yang kita kira, atau menurut kita, mereka perlukan).

Isi kumcer ini berbagai-bagai, ada yang fantasi, ada yang mengambil dongeng, ada cerita keseharian, ada juga yang pesan moralnya teramat kentara serta masih menggunakan sudut pandang orang dewasa. Dengan kata lain, terlihat benar penulis berusaha menanamkan sesuatu di benak anak-anak yang membaca atau mendengarnya (mengingat konsep Indonesia Bercerita juga menggunakan format podcast). Mungkin karena ada opsi podcast itu pula, judul-judul sejumlah cerita dibuat pendek dan memfasilitasi pembaca (atau yang membacakan saat merekamnya). Setiap penulis menyesuaikan ide dengan pohon karakter, meski saya kurang paham benar. Ada Daun – Empati, Daun – Ramah, Daun – Penyayang, dan seterusnya.

Satu unsur yang cukup terang bagi saya adalah samar-samarnya sosok ayah dalam hampir semua cerita yang tersaji di buku ini. Mayoritas memberikan porsi lebih besar kepada ibu, sedangkan ayah terkesan hanya ‘bayang-bayang’. Sudah begitu lemahkah posisi seorang ayah dalam keluarga dan hati anak-anak dewasa ini? *merenung*

Saya memfavoritkan gaya menulis Orizuka, singkat, banyak narasi, dengan ending yang lembut. Bahwa sering kali seorang anak, tak peduli usianya masih belia, bisa menjadi teman bagi orangtua. Dalam ‘Berkunjung ke Kebun Binatang’, elemen pengajaran istilah dan pengetahuan baru cukup terasa. Saya juga menyukai Mr. Tobiko dan Hutan Enenimon karena nama-nama karakternya yang unik, meski bertanya-tanya akan alasan pemakaian ‘Mr.’ sebagai sebutan di situ.
‘Sayang Kak Dhea’ menjumput gagasan yang relatif tidak baru namun membuat saya tersenyum, karena persoalan membandingkan anak hingga kini masih mengemuka.

Tak kalah menawan, ‘Pangeran Massak dan Raksasa di Belakang Bukit’. Karya Dina Antonia ini memperoleh bintang cukup banyak dalam skala penilaian saya, sebab mendobrak stereotipe bahwa raksasa itu makhluk jahat. ‘Cerita Selma’ merupakan buah pena Ollie yang baru pertama kali saya baca, dan mengesankan pula mengingat selama ini ia terkenal sebagai penulis fiksi dewasa. Sebagai penutup, Badak yang Berwarna Ungu paling merebut hati saya karena mencuatkan konsep bahwa cerita anak tidak selalu dibebani pesan, melainkan bisa jadi media bergembira bagi penulis dan pembacanya, yang terutama. Cerpen ini sangat lucu dan menyenangkan:D

Skor: 3/5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s