Gadis Cilik dan Romantisme Masa Lalu

goodreads.com

Judul: Scones and Sensibility

Penulis: Lindsay Eland

Penerjemah: Barokah Ruziati

Penerbit: Atria, 2011

Tebal: 308 halaman

ISBN:9789790244696

Saya berpikir-pikir bagaimana kalau dua keponakan saya, Almitra dan Manggala, begitu menghayati dan ‘tergila-gila’ kepada karya klasik seperti Polly Madassa? Ketika mulai membaca novel klasik, usia mereka sebaya Polly dan sampai kini masih menyukainya. Tentu belum beranjak ke romansa namun gaya tutur pengarang klasik yang amat khas dan kadang berbunga-bunga (walau tidak mendayu berlebihan, menurut saya) menyentuh hati mereka. Demikian pula keponakan saya yang lain dan telah duduk di bangku SMP. Soal fiksi lokal, dia hanya ingin menyentuh teenlit, tapi buku anak-anak klasik sangat digemarinya.Harus diakui, ada sisi romantisme unik dalam fiksi klasik. Saya sendiri tidak kelewat ‘akrab’ dengan buah pena Jane Austen, dalam arti baru mengenalnya belakangan ini saja. Namun pada usia 12 tahun, yang terbilang tanggung, lumrah saja apabila Polly terhanyut dan berusaha mengidentikkan diri serta lingkungannya dengan zaman para tokoh dalam buku tersebut. Ia juga mencintai puisi dan berusaha melafalkan dalam dialog sehari-hari.

Gagasan besar Lindsay Eland, penulis untuk konsumen taraf middle grade sesuai yang diakuinya dalam web resminya dan menyukai antara lain karya-karya Kate DiCamillo serta Shannon Hale ini, cukup unik. Anak perempuan bisa ‘maniak’ warna pink, membuat ID panjang yang mengeriut-ngeriutkan kening kita di Facebook, menyanjung Avril Lavigne atau superhero dalam kartun, meski barangkali tidak ‘seagresif’ anak laki-laki (ini hanya teori buatan saya, tanpa ada dasar yang kuat). Polly hanya mencoba ‘sedikit’ berbeda. Ia tenggelam dalam khayalan sehingga berusaha sekuat tenaga menjodoh-jodohkan mereka yang dianggapnya belum berjumpa dengan cinta sejati. Orang-orang yang menurutnya baik hati tapi belum beruntung, seperti Mr. Fisk, ayah Fran, sahabatnya, bahkan Clementine, yang sebenarnya sudah punya pacar.

Saya sangat menikmati penceritaan di bagian Madassa Bakery. Saya tidak hafal jenis-jenis roti dan kue, tapi jadi selalu lapar menyimaknya. Novel ini tetap mengandung pesan yang disampaikan dengan manis, walau saya juga bertanya-tanya akan hubungan cerita keseluruhan dengan Sense and Sensibility, yang sepertinya merupakan sumber ilham judul.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s