Menyusun Panduan Ilustrasi Cerita Anak

Pernah bekerja sebagai redaksi salah satu penerbit buku anak membuat saya belajar untuk menyusun panduan ilustrasi cerita anak. Selain dapat memudahkan pekerjaan para ilustrator dan tim colorist (pewarna), panduan ilustrasi juga bisa mengasah kepekaan visual kita sekaligus membuat tulisan lebih indah.

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sbb:
• Kategorikan jenis ilustrasi. Apakah untuk sampul? Apakah sebagai sisipan dalam cerpen atau dongeng? Ataukah untuk kamus bergambar?
• Genre ilustrasi. Dongengkah? Atau kehidupan nyata? Ataukah how to (misalnya cara memasak, cara mengepang rambut, bahasa jari, dll)? Atau komik? Jika berupa komik, pertimbangkan pula posisi balon teks nanti.
• Perkiraan space ilustrasi. Apakah berupa overview (2 hal)? Ataukah satu halaman?
• Posisi ilustrasi. Apakah di tengah? Kanan atas? Kiri bawah? Atau posisi lain?
• Karakter ilustrator. Betapapun, karakter setiap ilustrator berbeda. Perbedaan ini membuat kita perlu melakukan pendekatan yang berbeda pula saat berdiskusi tentang panduan ilustrasi. Pada seorang rekan ilustrator misalnya, saya hanya perlu memberikan sinopsis saat menyusun komik. Namun, lain cerita dengan rekan ilustrator yang berbeda.

Setelah ilustrasi terkategorisasi, barulah kita bisa menyusun panduan ilustrasi. Yang terdiri dari:

Riset

Riset ini meliputi: karakter tokoh, posisi tokoh, serta aktivitas tokoh. Untuk ilustrasi cerpen, dongeng, atau sampul majalah satu halaman, biasanya saya hanya perlu sinopsis cerita untuk membayangkan ilustrasi. Dari sana, bisa disarikan aksi tokoh untuk dirumuskan dalam ilustrasi. Misalnya, sedang memanjat pohon, sedang main bola, dll. Mantan pemimpin redaksi saya pernah menyarankan untuk menghindari gambar-gambar negatif seperti saat si tokoh tengah menangis atau dimarahi. Meski gambar-gambar semacam ini ada kalanya tak terhindarkan saat menjadi sentral cerita.

Lain cerita untuk ilustrasi kamus bergambar atau overview. Saya akan riset lebih detil dan berusaha menggunakan tema ilustrasi secara lebih spesifik. Misalnya untuk kamus bergambar dengan tema besar Transportasi. Saya memecah tema besar tersebut menjadi delapan sub bab, misalnya: Alat transportasi darat, udara, air, dll. Nah, pada tema alat transportasi air, saya menggunakan tema spesifik Pasar Terapung, dimana para pedagang menggunakan aneka perahu untuk berjualan.

Contoh lain, overview dengan tema tanaman keladi. Terinspirasi dari Festival Tanaman Keladi Dunia yang dihelat setiap bulan Agustus di Lake Placid, Florida, saya pun mengunakan tema festival tanaman keladi hutan dalam ilustrasi. Agar lebih lucu dan menarik, saya menggunakan tokoh para peri hutan dan kurcaci.

Menyusun thumbnail

Thumbnail ini berupa oret-oretan kasar yang meliputi posisi tokoh dan aktivitas tokoh. Karena tak pandai menggambar, biasanya saya hanya menggunakan bulatan, segi tiga, segi empat, dan aneka tanda panah. Misalnya pada contoh berikut:

contoh thumbnail cerpen

Melampirkan foto-foto berwarna sebagai referensi

Untuk memudahkan pencarian gambar di search engine, saya juga terbiasa menggunakan kata kunci bahasa Inggris. Ini karena, hasil pencarian gambar umumnya akan lebih kaya, sekaligus memiliki dimensi gambar besar dan tak pecah, dibanding pencarian dengan kata kunci berbahasa Indonesia.

Hendaknya lampirkan lebih dari satu gambar referensi. Jadi misalkan untuk gambar platypus, hendaknya cari gambar dengan posisi hewan: tampak depan, tampak samping, atau—jika memungkinkan—sekaligus dalam posisi ilustrasi yang diinginkan. Ini akan membantu ilustrator mengetahui anatomi hewan secara utuh. Ini juga berlaku untuk gambar tumbuhan, alat transportasi, profil tokoh, dan ilustrasi lain yang perlu digambar mendekati identik.

Selalu utamakan foto berwarna ketimbang hitam putih, karena foto berwarna juga memudahkan colorist untuk mewarnai ilustrasi.

Semoga postingan ini bermanfaat. Selamat membuat panduan ilustrasi! 🙂

Advertisements

6 Comments

  1. Artikelnya bagus 🙂

    Setuju dengan poin karakter ilustrator. Berdasarkan pengalaman, karakter ilustrator juga berpengaruh besar ke hasil akhir. Ada ilustrator yang entah kenapa bila membuat ilustrasi anak, wajah si anak tampak tua dan kurang hidup. Ada juga yang dengan goresan sederhana bisa mewakili karakter si anak. Ada juga yang cenderung ke style manga, ada yang lebih ke arah klasik.

    Ada yang dalam menggambar perlu diarahkan secara detil tentang situasi, karakter, posisi, dan aksinya. Paling suka jika ilustrator tidak malas membaca sinopsis/naskah sehingga sudah punya ide sendiri 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s