The Prince and the Pauper, Kepedulian Seorang Pemimpin

Penulis: Mark Twain

Penerjemah: Tria Barmawi

Editor: Azzura Dayana

Penerbit: Orange Books, 2010

Tebal: 434 halaman

goodreads.com

Mengapa 4 bintang?
Untuk kategori buku klasik, yang cukup tebal pula, sependek ingatan saya baru buku inilah yang saya tuntaskan dalam beberapa jam saja. Energi cerita dan kedua karakternya yang membetot membuat saya urung menetapkan target 100 halaman sehari, seperti biasa bila membaca buku di atas 300 halaman, sehingga membalik terus dan terus dan terus.

Kisah dua remaja, atau anak, yang bertukar peran memang pernah diangkat beberapa kali. Dalam sebuah cerpen Enid Blyton, saya pernah membaca dua gadis cilik yang baru berkenalan, Anna dan Peronel, sengaja bertukar baju. Yang satu menjadi putri raja, satu lagi rakyat jelata yang ternyata menikmati kehangatan keluarga bersahaja.

Lantas apa daya pikat The Prince and the Pauper ini? Potret sosial yang amat nyata, sebagaimana ciri khas Mark Twain dalam buku lainnya yang juga saya sukai, Huckleberry Finn. Pedih sekali mengetahui kehidupan Tom Canty yang lintang pukang mencari uang, sering mengalami kekerasan di rumah dari ayah dan neneknya sendiri yang gemar mabuk. Toh saya tersenyum-senyum juga ketika Pangeran (Edward Tudor) lupa bahwa dirinya sudah mengenakan baju compang-camping dan melesat memarahi pengawal.

Perwatakannya tak kalah menawan. Sungguh mengaduk-aduk perasaan kala Tom Canty, yang menjadi pangeran, dikira gila oleh seisi istana dan harus menekan ucapannya yang tidak mencerminkan jati diri seorang putra mahkota selain kemampuan berbahasa Latin yang baik. Di lain pihak, Pangeran adalah sosok istimewa. Ia tidak senang melihat rakyat diperlakukan kasar, mulai dari Tom sendiri. Ia bukan manusia pongah, terlepas dari upayanya untuk kembali ke istana sebagaimana mestinya, Pangeran yang dikira pengemis gara-gara pakaiannya itu dihadapkan pada kenyataan bahwa rakyat masih banyak yang menderita.

Tak seperti kebanyakan fiksi klasik, alur The Prince and the Pauper tergolong cepat. Mendebarkan juga, sehingga cocok untuk penggemar bacaan berbau petualangan. Saya geli kembali kala Miles Hendon, yang bingung karena bocah temuannya masih bersikap ala raja, ditawari hak istimewa dan memilih diperbolehkan duduk selama satu ruangan dengan Raja.

Begitu rampung membaca, saya baru menyadari bahwa di sampul depan tertera ‘Mark Twain, penulis novel best seller The Adventure of Huckleberry Finn‘. Saya merasa terwakili karena jauh lebih menyukai sosok satu itu ketimbang karakter populer lain, Tom Sawyer.

4/5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s