Saat Ayra Membuka Lembaran Baru

Inilah Kelas Paling Ajaib

Judul: Inilah Kelas Paling Ajaib

Penulis: Benny Rhamdani

Penerbit: DAR! Mizan, 2011

Tebal: 180 halaman

Langit tak pernah sedih karena terhalang awan mendung, juga di saat malam gelap tanpa bulan purnama maupun bintang-bintang. (hal. 78)

Mudah saja bagi sebagian orang dewasa untuk menyatakan bahwa mereka suka tantangan baru, kesempatan baru, peluang baru, dan mencoba hal-hal baru. Namun bagaimana dengan anak-anak? Sebagaimana umumnya manusia, banyak yang sudah terbiasa dengan ‘rutinitas’ tertentu dan apa yang disebut ‘zona aman’.

Pindah sekolah sekaligus rumah menurut sejumlah telaah dapat memengaruhi kondisi psikologi anak. Tentu Ayra, tokoh utama dalam novel ini, terkaget-kaget saat harus mengalaminya. Ide yang digelontorkan penulis amat bagus dan masuk akal, serta boleh dikatakan jarang diangkat. Perubahan situasi ekonomi yang menuntut Ayra sekeluarga berubah dalam cara hidup. Tidak eksplisit benar, tapi menjadi dasar yang kuat ditambah alinea pembuka yang menarik dan langsung ke tujuan.

“Kamu sungguh-sungguh bakal pindah, Ra?” tanya Lana tak percaya. Sebenarnya ini pertanyaan serupa untuk yang ketujuh kalinya hari ini.

Apakah buku ini menceritakan keluh-kesah Ayra dengan hidup yang benar-benar lain? Tidak. Ia butuh waktu beradaptasi dengan sekolah dan teman-teman barunya yang unik. Tapi ihwal keluarga, banyak dorongan positif yang membuatnya bisa mensyukuri perubahan tersebut.

Biasanya Ayra ngobrol melalui telepon seluler dengan Mama di kamar masing-masing. Sekarang hanya Papa yang memegang ponsel. (hal. 44)

Bang Aryan, kakak Ayra, yang otomatis terkena dampak perubahan ini pun mengutarakan alasan bisa betah dengan cara hidup baru secara jenaka.

“Lumayan betah, biarpun ke sekolah harus naik angkot. Ada positifnya juga. Pinggang jadi enggak terlalu lebar!” (hal. 44)

Banyak hal lain yang saya sukai dari cerita novel ini, di antaranya:

1. Tokoh utama tidak berarti ‘sempurna’. Ada pelajaran mengenai kekalahan, dan bahwa kalah itu wajar.

2. Intisari persahabatan, bahwa jarak tidak selalu mengubah hubungan dan keakraban meski memang bisa menimbulkan salah paham karena jarangnya berkomunikasi.

3. Penghuni kelas yang benar-benar seru. SD Teladan Hati saja sudah mengesankan bagi saya, karena bukan sekolah berdisiplin ketat. Saya mengkhayalkan seandainya ada sekolah semacam ini waktu masih SD:)

4. Penulis tidak merasa tabu menceritakan sedikit tentang masalah orangtua, misalnya perceraian. Untuk zaman sekarang yang berkelimpahan informasi dan derasnya sinetron, anak-anak tidak perlu dipagari lagi ihwal permasalahan demikian dalam kadar tertentu sesuai usia masing-masing, menurut saya. Demikian pula persoalan anak angkat dan orang dewasa yang bertahun-tahun belum dikaruniai putra.

5. Banyak berbicara seputar sekolah. Karena meski anak-anak sejatinya masih dalam fase bermain yang intens, sekolahlah yang ‘menghabiskan’ waktu mereka seharian. Dengan begitu, ceritanya terasa lebih membumi.

6. Dakwahnya tidak verbal sehingga makin enak dibaca.

sumber gambar: mizan.com

Skor: 4/5

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s