Kala Buah Beri Menjadi Alat Pertikaian

Judul: Beck and the Great Berry Battle (Beck dan Perang Beri)

Penulis: Laura Driscoll

Ilustrator: Judith Holmes Clarke

Penerjemah: Vina Damajanti

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: ke-3, Juli 2008

Tebal: 112 halaman

Beck dan Perang Beri (Beck and the Great Berry Battle)

Kali ini, buah beri bukan santapan burung-burung. Mereka menggunakannya untuk berperang dengan tupai. Apa pasal? Burung kolibri, salah satunya bernama Twitter:D, meyakini bahwa tupai mencuri sarang mereka. Tupai yang terganggu oleh lemparan buah beri para burung sehingga sulit mencari makan dan keluar rumah menjadi berang.

Layaknya perang di mana pun dan dalam bentuk apa pun, selalu ada korban di luar dua pihak yang bertikai. Para peri Never, di antaranya. Ada yang bersungut-sungut karena bajunya ternoda, ada yang sibuk menghindar hingga debu perinya terjatuh dan jadi sia-sia. Setidaknya menurut peri tersebut. Kreativitas dikeruk, mereka membuat payung yang ternyata harus sering diganti untuk menahan serangan beri. Payung yang sudah rusak tidak terbuang percuma, bisa didaur ulang oleh peri-bakat-kebun.

Sisi lain perang yang juga ditampilkan di sini ialah terciptanya kubu-kubu. Banyak pihak dirugikan sehingga turut serta dan perang beri bertambah sengit. Dengan cerdik penulis mengemukakan jalan keluarnya. Pesan yang tergambar cukup benderang, pasti ada satu saat kau bertemu dengan musuhmu dan mungkin saja ternyata ia tidak seburuk yang kaukira.

Kepiawaian penulis terlihat juga pada pemilihan jenis burung yang ‘didampingkan’ dengan tupai dan tikus. Bukan yang predator alami seperti burung hantu, melainkan kolibri yang mengonsumsi nektar dari bunga-bunga. Pembaca anak-anak bisa belajar pula mengenai tikus mondok yang penglihatannya kurang awas, serta kebiasaan tupai menimbun makanan dan tidak langsung melahapnya.

Dari segi terjemahan, ada kesegaran di sini. Cerita terasa sangat lancar karena penerjemah tidak segan berkreasi seperti berikut:

Ia Grandfather Mole. Beri itu jatuh tepat di atas kepalanya. Cret! (hal. 56)

“Hujan ya? Tetes airnya besar-besar amat.” (hal. 57)

Skor: 4/5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s