35 kilos d’espoir

librarything.com

Penulis: Anna Gavalda

Penerbit: bayard jeunesse, 2002

Tebal: 112 halaman

“Sois heureux, merde! Fais ce qu’il faut pour etre heureux!”

Saya pernah membaca dalam sebuah wawancara di majalah Matabaca lama, Pak Soekanto SA mengemukakan bahwa cerita anak yang ideal menurut beliau adalah yang tidak ‘mengindah-indahkan’ (dalam arti amelioratif) kenyataan. Hidup penuh warna-warni, tidak melulu berisi kegembiraan. Maka sudah selayaknya jika pembaca anak diperkenalkan pada kesedihan, kematian, dan lain-lain melalui buku.

Grégoire, karakter utama novel ini mungkin terbilang ‘tua’ untuk disebut anak-anak. Usianya sudah 13 tahun, tergolong praremaja. Problematikanya unik namun bukan baru, meski masih jarang dieksplorasi, yakni benci sekolah.

Di sinilah pertalian minat terjadi dengan pembaca, yakni saya. Saya pernah sakit perut pada masa-masa sekolah, tidak ingin pergi ke sana dan hanya menghitung hari hingga pelajaran usai. Namun penyebabnya sedikit lain, dan tentu tidak sedahsyat yang dialami Grégoire. Ia tak bisa bertahan di sekolah mana pun, senantiasa dikeluarkan dan dianggap memberi pengaruh buruk pada yang lain.

Saya sempat tersenyum-senyum ketika Grégoire mengaku lebih jago filsafat ketimbang matematika, kendati dihadapkan pada kenyataan oleh ayahnya sendiri bahwa banyak ilmu formal diperlukan dalam hidup. Khususnya guna meraih masa depan dan menjadi mandiri. Beban bocah ini sebagai anak tunggal sangat berat, memikul ekspektasi ditambah suasana rumah yang penuh konflik, sehingga ia berpaling pada kakeknya, Grand-Leon.

Grand-Leon adalah sosok kakek yang eksentrik, penuh kasih sayang dan pengertian. Ia begitu saling mengasihi dengan sang istri, Charlotte, yang dipanggilnya ‘Lolotte’, namun keras kepala perkara hobi merokok. Di lain pihak, orangtua Grégoire masih berusaha menjadikan anak mereka ‘normal’ dengan mencarikan sekolah. Tak urung saya tergelak kala bocah ini berupaya betah di sekolah barunya dengan membayangkan sebuah kebun binatang besar, semacam penitipan tempat anak berbagai usia ‘diparkir’ dari pagi sampai sore.

Dialog-dialog Grégoire dan kakeknya barangkali monoton bagi yang tidak menyukai cerita satir, tapi bagi saya melekat di hati. Anna Gavalda berhasil menampilkan karakter dan perangai anak secara jujur, manusiawi, dan proporsional berikut segala imajinasinya.

Pour une amie, merci beaucoup. Tu sais qui tu es.

Skor: 4/5

Advertisements

5 Comments

  1. ,ohh,..
    mbak’,.punya novel aslix,..???

    sbnrx,rencana novel ini sya mw angkat untuk bahan skripsi sya…

    jadi,sya sangat berharap mbak’..bisa membantu…:):)
    mksh…^_^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s