Hewan Peliharaan, Bukan Hanya Kucing dan Anjing

Judul: My Best Story, Pets – Kumpulan Cerita dari 10 Penulis Ternama

Penulis: Shara, Rizky, Sekar, Opiq, Taruli, Ali Muakhir, Tria Ayu, Indah Juli, Beby H.D, Dian K

Penyunting: Dadan R dan Yani Suryani

Penerbit: DAR! Mizan, Agustus 2011

Tebal: 240 halaman

My Best Story: Pets

Jujur saja, subjudul (atau tagline?) Kumpulan Cerita dari 10 Penulis Ternama sangat menggedor perhatian saya. Saya tidak akan bicara tentang judul berbahasa Inggris karena sudah bosan mendengarnya dipermasalahkan di mana-mana. Menariknya lagi, dari kulit muka buku ini, nama-nama penulis ciliklah yang dipajang lebih atas. Hal tersebut sukses mendorong saya membaca karya-karya penulis cilik lebih dulu.

Dan hasilnya? Saya kagum. Untuk kesekian kalinya, kendati buku-buku karya penulis cilik di luar pekerjaan sudah ada yang mampir ke meja baca saya. Makin terlihat jelas daya pikat tulisan mereka yang menjadi nilai tambah tersendiri bagi anak-anak yang gemar membaca (dan otomatis mengonsumsi KKPK serta genre sejenis). Ini fenomena yang tak henti membuat saya takjub tiap kali mampir ke toko buku, melihat deretan buku karya mereka, dan selalu saja ada yang membeli kapan pun saya berkunjung:)

Tisera Jatos, Februari 2012

Cerpen Taufiq Murtadho mengingatkan saya pada seorang keponakan, yang kini sudah dewasa, dan sangat menyayangi binatang. Orangtuanya bahkan harus mengalah karena ia tidak mau merelakan sapi yang dirawat sejak kecil untuk dikurbankan. Nada-nada ceria yang menjadi khas cerpen anak tecermin dari yang lainnya. Saya tersenyum-senyum membaca ini:

“Gimana kalau namanya Beauty saja, Mang. Nama panjangnya Beautiful Calf.”

(hal. 78)

Dari pembukaan pun tergambar akan kebiasaan anak-anak zaman sekarang yang melebur dalam tulisan mereka, yang rata-rata bernapas panjang. Termasuk cerpen WandaAmyra Mayshara yang bertemakan bunglon,

Kriing! Telepon rumahku berbunyi. Aku yang sedang asyik online di blog-ku cuek saja.

(hal. 108)

Jadi benar-benar tidak ada tuh, cerpen dengan pembukaan, “Matahari bersinar cerah, burung-burung bernyanyi riang…”

Bukan berarti karya penulis dewasanya tidak bagus. Saya tak luput menyimak cerpen Mbak Indah Juli yang didampingkan dengan putri beliau, Taruli. Kemudian kearifan lokal yang ditonjolkan Tria Ayu berhasil membuat saya menangis sehingga pilek yang diderita sewaktu membaca buku ini makin terasa:))

Saat mendung tiba, aku tahu Awan tidak hilang. Ia hanya mengembara sejenak agar lebih bahagia.

(hal. 186)

Omong-omong, buku saya istimewa karena dihiasi gambar-gambar Vlea:D

 

Sumber cover atas: blog Mbak Indah

Skor: 3,5/5

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s