Mengintip Selera Baca Anak

Saya sebut “mengintip” karena ini tidak berdasarkan survey “serius”, semata pengamatan atas keponakan, anak-anak tetangga yang bermain ke rumah, dan hasil iseng saya terhadap anak-anak yang berkunjung ke toko buku.

Sedari masa saya kecil dulu, selalu ada anak yang lebih cepat dewasa ketimbang umurnya. Barangkali karena tuntutan zaman (baca: pengaruh media), jumlahnya di masa sekarang kian banyak saja. Bukan suatu keganjilan lagi mendapati seorang bocah usia tiga tahun duduk manis di depan Youtube menonton Shaun the Sheep sementara ibunya berkutat dengan tugas rumah tangga.

Okelah, anak-anak usia prasekolah masih cocok ditemani buku yang benar-benar dilabeli “buku anak”. Board book penuh gambar untuk memperkenalkan warna dan huruf, misalnya. Atau bentuk-bentuk yang sederhana. Hasrat bermain di kelompok umur ini tinggi sekali, sehingga dapat dimanfaatkan untuk “susupan” belajar sedikit demi sedikit. Dengan bantuan buku bergambar plus karpet berhiaskan gambar aneka binatang, meski dalam bahasa Inggris, perlahan-lahan keponakan saya (4 tahun) yang kesulitan berbicara mulai mampu menanggulangi kesukarannya. Warna-warni cerah bisa jadi menyilaukan untuk orang dewasa (baca: saya), tapi barangkali itu siasat mengingat anak usia sedemikian mudah sekali bosan. Hanya saja anehnya, buku untuk usia prasekolah ini cukup sukar diperoleh. Khususnya bagi anak-anak yang belum ingin “terlalu serius” belajar dan bersifat umum.

Menginjak usia SD, salah seorang keponakan saya sudah enggan membaca buku anak. Semula saya kaget, mengapa dia minta teenlit? Memang efek lingkungan tidak bisa ditampik, bahkan usia kakak yang lumayan jauh dan pergaulannya relatif berjenjang [bahasa gaulnya, si anak jadi ingin pipilueun supaya tidak ketinggalan tren]. Pada tahap ini, minat anak untuk membaca buku remaja (lokal, salah satu penulis favoritnya adalah Ken Terate) dan buku anak terjemahan tak bisa lagi dibendung. Apa pasal?

Yang saya garisbawahi, buku terjemahan berlabel genre anak pun amat luas cakupannya. Dengan kata lain, yang sudah bukan anak-anak juga bisa menikmatinya. Ceritanya tidak tendensius dan “menggurui”, tidak berkeras menjejalkan pesan moral. Standar pembolehan memang berlainan di tiap keluarga (atau kalau boleh sebut, budaya). Namun jika saya boleh mencontohkan, banyak yang menyukai karya Jacqueline Wilson dan Anastasia Krupnik-nya Lois Lowry lantaran posisi anak dan orang dewasa dalam cerita itu “setara”. Seingat saya, tak ada yang menyuruh atau melarang anak begini-begitu, paling tidak secara eksplisit.

Saya tidak akan bicara perkara fantasi dan ilustrasi, yang sudah terlalu sering dibahas.

Melanjutkan topik di atas, apakah buku lokal tidak menarik untuk anak-anak tersebut? Kabar baiknya, masih ada. KKPK, misalnya, yang dengan kencang disuarakan anak-anak tetangga di sini. Mereka tak menyebutkan alasan, hanya saya menduga bahwa mereka merasa lebih klop dengan karya penulis yang sebaya. Entah dari segi bahasa, cerita, isi, imajinasi. Anak-anak usia SD (sependek pengetahuan saya, usia SMP sudah bukan anak-anak) juga menyukai buku aktivitas tempel-menempel dan sejenisnya. Yang ini tidak pandang jenis kelamin:). Cukup banyak juga yang meminati sains, sebab menopang pelajaran di sekolah.

Kembali pada keinginan “lompat umur” dalam membaca tadi, saya teringat bujukan anak-anak itu untuk menonton film Surat Kecil Untuk Tuhan. Tidak sedikit yang mengaku suka sekali bukunya. Alasannya, “Kisah nyata dan sedih.” Anak-anak sudah siap dengan tema kematian. Sudah tidak perlu dicemaskan ihwal yang sedih-sedih, karena dunia nyata telah banyak bicara soal itu. Dan itulah komentar konsumen murni, bukan yang beriktikad mengulas dari berbagai teori.

Sisi positif lainnya, saya dengar sejumlah sekolah dengan fasilitas perpustakaan mulai berperan aktif. Sebut saja novel King (Gradien Mediatama) yang dijadikan semacam bacaan wajib di SD Mentari International School Bintaro. Laskar Pelangi termasuk buku studi tersebut, meski ini bukan kabar mengejutkan.

Belum jenuhkah pembaca akan topik kisah nyata inspiratif? Saya tidak tahu. Tapi kesimpulannya, mungkin tantangan besar penulis dan penerbit buku anak lokal adalah menghasilkan bacaan yang dapat dinikmati semua umur. Bukan zamannya lagi mengkhawatirkan anak “keberatan” membaca buku tebal. Kalau memang menarik, mengapa tidak? Apalagi anak-anak yang mulai tidak senang disebut anak kecil.

Advertisements

4 Comments

  1. Kumcer dan novelet kkpk yg sy teliti pun agak ‘meresahkan’ krn stereotipe karakter tokoh perempuan anak-anak masih dipengaruhi mitos” tertentu ttg perempuan,bhw perempuan anak lbh peduli pd penampilan fisik,menganggap perempuan cantik adlh perempuan yg feminin,konsumtif,dsb..

    Reply

  2. wow! aku baru lulus SMP sih, jadi gak bisa dianggep anak-anak lagi yah? ._. aku sering baca KKPK dan buku anak-anaklainnya (yah meskipun sekarang sering baca novel klasik sih,) tapi aku masih suka kok baca buku anak-anak, soalnya aku juga punya keponakan kecil dan aku mau membantu mbak sepupuku untuk menanamkan rasa cinta membaca di usia dini 😀 siapa yang melakukan survei, harus lebih serius dong… biar bisa memberi masukan juga, buku apa yang cocok untuk anak-anak sekarang 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s