Anak dan Buku Terjemahan

Semasa kecil, saya sudah diperkenalkan dengan buku-buku terjemahan oleh orangtua. Beberapa di antaranya berupa kumpulan dongeng bergambar, komik HC Andersen, pictorial book tentang fauna (berbagi dengan adik), dan setelah lebih lancar membaca, Lima Sekawan serta buku-buku Astrid Lindgren. Ada juga buku-buku produk negeri sendiri, ada satu seri yang saya hafal penulisnya antara lain bernama Tinneke Latumeten tetapi lupa judulnya. 

Bukan rahasia lagi, buku anak masih didominasi terjemahan dengan segala alasannya. Sudah sering dibahas, jadi tak perlu saya ungkapkan lagi di sini. Saya perhatikan dari lingkungan, kerabat, dan keluarga, memperkenalkan bacaan baik terjemahan maupun lokal berupa buku penuh gambar sangatlah mudah. Tetapi ketika halaman menebal, mereka kesulitan. Barangkali karena setting buku terjemahan tidak terlalu akrab dalam keseharian, sehingga mengingat nama saja sudah butuh kerja ekstra. Beberapa anak yang sebenarnya terbilang sudah cukup besar, katakanlah kelas 4-5 SD, pun masih menggemari buku bergambar beraktivitas seperti tempel-menempel dan sebagainya.

Untuk mendekatkan pembaca dengan nilai-nilai lokal, tentu saja buku dalam negeri yang lebih mampu. Cerita semacam ini contohnya. Repotnya kalau anak sudah usia lancar baca tapi minatnya kurang. Lebih tepat lagi, seperti pengakuan mereka sendiri, “Malas.” Prihatin juga karena membaca Lima Sekawan yang relatif menganak-anak dan font-nya masih bersahabat pun mereka enggan. Jadinya serbatanggung dan bingung. Buku bergambar tipis, bukan masanya lagi.

Di satu sisi, ini bisa jadi angin segar untuk penulis Indonesia. Saya tidak akan bicara tentang pesan moral atau bagaimana cerita anak yang baik, berbobot, dan seterusnya, karena saya bukan ahli. Saya sekadar penikmat. Di sisi lain, buku anak terjemahan dapat berumur panjang dan meraih konsumen di luar sasarannya. Kemenakan saya yang sudah hampir lulus kuliah pun senang sekali membaca karya-karya Jacqueline Wilson, meski saya “curiga” adanya ilustrasi dan pilihan font besar itu juga berperan. Ah, yang penting mau baca:D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s