Anak-anak dalam Bencana Lumpur

tigaserangkai.com

Judul: Pasukan Paspor

Penulis: Sofie Dewayani

Penyunting: D. Liana

Penerbit: Tiga Ananda, Desember 2012

Tebal: 64 halaman

Banyak bencana alam dahsyat terjadi dan sebagian masih terkatung-katung, menyisakan konflik berkepanjangan sehingga sejumlah korban belum lagi pulih secara ekonomi maupun lainnya. Berita mondar-mandir di media, menghiasi layar televisi, namun ada yang tidak terekam di sana. Bagaimana kondisi anak-anak? Tentu saja dari sudut pandang anak-anak, bukan analisis orang dewasa.

Di situlah keistimewaan Pasukan Paspor. Paspor yang berupa akronim Pasar Porong, bukan untuk bepergian ke luar negeri. Penulis mengangkat Fandi sebagai karakter utama, mengisi kekosongan bacaan untuk anak lelaki. Sedari awal sudah terasa, pameo “masa kanak-kanak (seharusnya) menjadi masa paling indah” kini tak lagi berlaku. Berbagai hal, yang dikategorikan petaka maupun tidak, dapat mengubah kehidupan seorang anak sehingga lain dari teman-teman sebayanya. 

Bersekolah, bermain, dan kegiatan sehari-hari Fandi jelas berubah setelah banjir lumpur melanda dan menenggelamkan wilayah tempat tinggalnya. Ia merasakan dampak besar, salah satunya sang ayah yang kehilangan pekerjaan. First novel ini membicarakan pertentangan korban yang menerima ganti rugi dan yang tidak, tanpa menoreh terlalu dalam sehingga tidak “memberatkan” pembaca pemula. Cukup jelas dengan menyajikan keluarga Fandi sebagai yang memutuskan tak menerima ganti rugi tidak memadai itu sehingga tetap berkumpul dengan para pengungsi lain.

Memang kisah bencana alam begini memedihkan. Yang tadinya pilih-pilih makanan dan ada “agenda” membayangkan menu, kini harus puas dengan sajian dapur umum. Sumbangan yang enak namun sering kali diperebutkan. Secara proporsional, tragedi yang harus dijalani bersama itu dikerucutkan sedikit menjadi konflik antarsaudara dan bumbu detektif cilik terkait nasi kotak yang hilang. Ketika persoalan tersebut berkembang ke arah pertemuan dengan kerabat yang lama tak terdengar kabarnya, rasa “bencana” semakin nyata.

Novel yang menawan karena bukan hanya bercitarasa lokal kental, tapi juga mengajak siapa pun yang membacanya agar tidak merasa paling merana sendiri.

Skor: 4/5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s