Yur Sayuur…

Judul: Aletta dan Kerajaan Sayur-Mayur

Penulis: Tria Ayu

Penerbit: Tiga Ananda (imprint Tiga Serangkai), April 2012

Tebal: 64 halaman

Sumber cover: dutailmu.com

“Kau tahu apa yang paling menyedihkan bagi sayur-mayur?” Kol bertanya. “Berakhir sebagai sayur busuk.”

(hal. 17)

Semasa kanak-kanak, apabila saya tidak menghabiskan makanan, orangtua sering kali berkata, “Nanti nasinya nangis, lho.” Tapi tidak pernah, rasanya, ada ucapan, “Nanti sayurnya nangis, lho.”

Cukup banyak iklan di televisi ihwal anak yang sulit makan sayur, kendati jika ditata sedemikian rupa, warnanya begitu menarik pandangan. Tidak kalah dengan tatanan buah, kue, atau lainnya. Sepertinya ini problematika yang umum terjadi, wajar saja apabila bisa berkepanjangan sampai dewasa.

Ide novel ini benar-benar segar, sebagaimana warna-warni sayuran yang menghiasi sampulnya. Tergeserlah anggapan bahwa fabel mesti berkonotasi dongeng, karena yang diterapkan adalah latar waktu masa kini sehingga menghasilkan fabel kontemporer dengan karakter sentral para sayur dan satu tokoh penting yang sampai hari ini masih membuat saya geli: ulat tak berbulu.

Tapi saya tak bisa tidak tergelak membaca kalimat pembuka novel ini,

“Demi bulu, aku tak mau mati sebelum tumbuh bulu!”

Secara tersirat disampaikan bahwa mati adalah bagian hidup. Dengan teknik ini, anak-anak diharapkan tidak “menakutinya”. Tidak lagi berlaku pameo bahwa “mati” terlalu keras dan mengagetkan bagi pembaca anak, khususnya yang dibidik First Novel.

Sudut pandang para sayur dari berbagai jenis ini mengasyikkan diikuti karena Sawi berkata, “Wi wiii…” sedangkan Terong beronomatope, “Rong rooong…” Dengan ringan, dikisahkan bahwa kol tidak keberatan dipotong-potong, di suatu kesempatan dia mau berkorban. Alasannya, silakan baca sendiri:)

Perjalanan Ulat mencari pimpinan kaum sayur, yang sungguh tak disangka-sangka, membuat saya terus membalik halaman. Teringat suatu buku bahwa ketika melangkah, kita hanya memikirkan diri sendiri dan tidak menghiraukan makhluk kecil yang mungkin saja terinjak, terpental, atau terpelanting. Bertenggang rasa bukan hanya terhadap sesama manusia atau apa saja yang terlihat jelas. Mungkin karena novel inilah, saya masih menahan bergidik dan membiarkan fenomena alam berlangsung di halaman. Ulat-ulat tak berbulu yang rakus melahap daun pohon jati tinggi.

Kisah yang membuat saya sangat ingin membaca kelanjutannya. Ini kalimat favorit saya:

“Umpatan memang biasanya tak sopan, Kawan. Itu sebabnya makhluk hidup dilarang mengumpat.”

(hal. 38)

Skor: 5/5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s