Makan Sayur

Ini cerpen anak-anak untuk suatu proyek yang saya tulis enam tahun lalu.

MAKAN SAYUR

 “Hu-uh, sayur lagi, sayur lagi..”

Indra merengut melihat hidangan yang disiapkan Ibu di atas meja. “Bu, kok masaknya sayur terus sih?”

“Sayur kan enak, Ndra,” Ibu meletakkan teko air putih. “Dan bikin badan kita nggak gampang sakit.”

“Kenapa harus tiap hari?” Indra masih protes.

“Karena sayuran itu penting untuk tubuh,” Ibu menarik sepiring tumis wortel dan buncis. “Lihat, ini kiriman dari Paman di desa. Sayur kesukaan Ayah. Indra kan belum coba. Ayo, sedikit saja.”

Nggak mau! Nggak mau!” Indra menggeleng.

“Dicoba dulu, Sayang.”

“Indra nggak suka sayur!”

“Wah, sayang sekali,” Ayah menarik kursi di ujung meja makan. “Padahal Indra suka membaca. Wortel sangat baik untuk kesehatan mata.”

“Betul,” Ibu menyendok nasi. “Lihat kelinci, nggak ada kan yang pakai kacamata?”

“Indra nggak akan pake kacamata,” Indra berkilah. “Indra nggak pernah baca di tempat gelap, baca sambil tidur.”

“Baca dalam mobil?” Ibu menyela.

Indra terdiam sejenak. “Ya, mulai sekarang Indra nggak akan begitu lagi. Jadi mata tetap sehat walaupun nggak makan wortel.”

Ayah memandang Indra. “Kamu benar-benar nggak suka sayur? Jadi sekarang mau makan apa, dong?”

“Indra mau makan ay..” Indra tertegun melihat lauk pauk di hadapannya. Selain tumis kesukaan Ayah tadi, yang tersaji adalah tahu dan tempe. Juga semangkuk sayur lodeh. Ibu hanya memasak ayam atau daging seminggu sekali.

“Indra mau makan telor aja,” ia beranjak mengambil telur di lemari es. Indra memang sudah bisa menggorengnya sendiri.

Kejadian di ruang makan diketahui oleh para sayuran yang disimpan Ibu di dalam lemari es. Mereka semua bersedih.

“Indra nggak mau memakanku, padahal warnaku begitu menarik,” ucap Wortel.

“Aku juga heran. Padahal Ibu Indra pandai sekali memasak. Pasti semua sayuran akan jadi enak setelah diolahnya,” tukas Tomat.

“Sejak aku di sini, Indra bahkan tak pernah menoleh padaku,” keluh Bayam.

“Apalagi aku,” tambah Sawi.

“Kasihan, ya. Sering makan daging akan membuat perut jadi panas,” ujar Bayam.

“Dan sulit buang air besar,” kata Tomat.

“Bagaimana dengan kamu?” Wortel menoleh pada Bakso di sudut. “Indra sepertinya paling menyukaimu.”

“Aku atau Ayam,” kata Bakso. “Ia suka sekali memakanku dengan kecap manis.”

“Bagaimana dengan Ikan?” Tomat bertanya lagi.

“Ia kurang suka,” Ayam menjawab. “Katanya, repot buang durinya. Sampai harus dikejar-kejar supaya mau makan ikan.”

“Mungkin Indra lupa sewaktu demam tempo hari,” cetus Bakso. “Karena tidak mau makan sayur, baru beberapa hari kemudian ia bisa sembuh.”

Bayam menggeleng-geleng. “Tapi kudengar, besok Ibu akan mengeluarkanku dari sini. Giliranku dimasak.”

“Ayah dan Ibu selalu menghabiskan sayuran apa saja,” komentar Tomat.

“Hei, bagaimana jika kubantu?” usul Ayam. “Akan kudekatkan beberapa bagian dagingku ke tempatmu. Jadi Ibu akan memasak kita bersamaan.”

“Tidakkah Indra akan membuang Bayam dan hanya memakanmu?” Wortel bertanya.

“Tidak. Besok belum waktunya Ibu memasak daging. Jadi aku yakin, Ibu hanya akan mengambilku sedikit. Dengan irisan ayam di antara sayuran, Indra tentu akan memakan semuanya,” kata Bakso bersungguh-sungguh.

“Kita coba saja,” Bayam ikut bersemangat. “Supaya Indra tahu bahwa sayuran pun enak rasanya.”

Rupanya Ibu juga memikirkan cara untuk membujuk Indra makan sayur. Ibu tahu ia akan kesulitan mengharuskan putranya makan sekaligus. Maka disiasatinya sayur bayam yang segar itu dengan irisan daging ayam di sana-sini.

“Ini menu spesial untukmu,” Ibu berkata ketika Indra pulang sekolah. “Ibu akan sedih jika Indra nggak mau memakannya.”

Indra, yang sudah sangat lapar, memandang mangkuk yang mengepul-ngepul itu. Bayam nan hijau terlihat begitu menarik. Apalagi Ibu menambahkan irisan jagung kesukaannya.

“Bagaimana?” Ibu memperhatikan Indra menyuap sesendok.

“Enak sekali, Bu,” Indra tersenyum. “Ibu memang hebat.”

Ibu masih menunggu dengan perasaan cemas. Di luar dugaan, Indra menghabiskan makanannya dan meminta tambah.

“Wah, kalau begini terus, kamu akan sekuat Popeye,” Ibu menyebut tokoh kartun kesayangan Indra.

“Paman juga seperti Popeye ya, Bu?” Indra teringat pamannya yang bertani di desa.

“Tentu. Karena sehat dan kuat, Paman dapat merawat kebun sayurnya dengan baik. Hasilnya pun dapat Paman nikmati.”

“Waah, Indra nggak sabar ingin ketemu Paman,” Indra menarik piringnya lebih dekat. “Liburan nanti kita ke desa ya, Bu.”

“Paman pasti senang melihat Indra mau makan sayur,” cetus Ibu bahagia.

“Besok, Indra mau coba tumis kesukaan Ayah.”

“Betul? Nanti Ibu buatkan.”

“Tapi kasih sedikit bakso ya, Bu. Biar makin sedap.”

“Iya, iya.”

Di dalam lemari es, para sayuran bersorak-sorai. Demikian pula Ayam dan Bakso.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s