Mas Dudung

Juga tulisan lama.

Mas Dudung

Adin mengendap-endap menghampiri Bunda. Ia berbisik, “Bu, itu siapa yang lagi nyuci di belakang?”

Bunda berhenti melap piring. “Itu Mas Dudung, Din. Pengganti Mbak Sih.”

Bibir Adin membulat. Mbak Sih memang tidak akan kembali lagi setelah Idul Fitri. Ia sudah menikah. Walaupun berat hati, Adin dan Ayah-Bunda merelakannya. Mbak Sih bekerja paling lama di rumah ini, sehingga sudah seperti anggota keluarga sendiri. Sebelumnya ada Mbak Tin, Mbak Yus, dan banyak lagi. Mereka datang silih berganti.

Bunda bilang, orang berhenti kerja itu sudah biasa. Ada yang karena sakit-sakitan seperti Mbak Tin. Ada juga yang rindu keluarganya di kampung halaman seperti Mbak Yus. Kadang-kadang pembantu rumah tangga terpaksa diberhentikan karena keluarga yang menyewa jasanya tidak mampu membayar gaji lagi.

Adin menatap Bunda lekat-lekat. “Tapi Bunda punya uang kan untuk bayar gaji Mas Dudung?”

Bunda tersenyum. “InsyaAllah sudah disiapkan, Din. Memangnya kenapa?”

Adin mempermainkan rambutnya. “Susi cerita sama aku, mbaknya pindah kerja karena ada yang berani bayar lebih tinggi.”

“Oh ya?” Bunda menarik kursi dan duduk. “Itu juga wajar, Sayang. Kebutuhan orang kan berbeda-beda.”

“Tapi, Bun..” Adin melirihkan suaranya. “Kenapa nggak cari pembantu perempuan lagi aja?”

Mata Bunda bersinar. “Memangnya laki-laki nggak boleh?”

“Bukan… aneh aja,” Adin berkata jujur. “Berarti yang masak juga Mas Dudung?”

“Iya dong, Sayang. Kalau beli terus, kan boros.”

“Hmm..” Adin berpikir-pikir. “Terus, Mas Dudung bisa ngasuh Dek Arif?”

“Itu tugas Bunda,” ibunya menjawab. “Sekarang kan Bunda nggak ngantor lagi. Adin juga bisa bantu Bunda, kan?”

“Siip,” Adin mengacungkan jempolnya. “Tapi, Bun..sekali-kali Bunda juga masak, ya? Mau, kan?”

Bunda tertawa. “Iya, Nak. Bunda usahakan.”

Adin sudah berkenalan dengan Mas Dudung. Pemuda itu pemalu dan tidak banyak bicara. Ketika Adin bangun pagi, meja makan sudah ditata rapi. Susu untuk Adin dan Bunda, teh manis hangat untuk Ayah. Setelah mandi, Adin memperhatikan Mas Dudung menggoreng nasi.

“Jangan terlalu dekat, Din, di sini panas,” ujar Mas Dudung lembut.

“Aku juga bisa goreng nasi sendiri kok,” Adin menimpali. “Tapi Bunda yang nyalakan kompornya.”

Mas Dudung tersenyum. Ia mematikan kompor dan hendak meraih piring.

“Aku bantu ya Mas, aku bantuin,” Adin serta-merta mengambil piring di rak.

“Tapi..” Mas Dudung menoleh pada Ayah dan Bunda.

“Nggak apa-apa, Dung,” Ayah berkata. “Adin harus belajar melakukan tugas di rumah.”

“Horeee!” Adin merasa dibela oleh ayahnya.

“Tapi jangan sampai ganggu Mas Dudung kerja lho, Din,” Bunda mengingatkan. Wajahnya pucat karena kurang tidur. Dek Arif menangis karena lapar sebelum Subuh tadi.

“Tenang aja, deh,” Adin meyakinkan. Ia melirik jam dinding. “Wah, sudah jam segini. Bantunya lain kali aja ya, Mas. Adin belum beresin tempat tidur.”

Mas Dudung mengangguk maklum. Ayah dan Bunda tertawa. “Adin..Adin..”

“Pembantu laki-laki bisa masak? Yang bener, Din?” tanya Susi, teman sekelas Adin. Mereka berjalan kaki pulang sekolah.

“Bener. Enak kok masakannya,” Adin bercerita penuh semangat. “Ayahku juga bisa masak. Telur mata sapi aja, tapi.”

“Waah, aku jadi pengen main ke rumahmu.”

“Buat apa? Kenalan sama Mas Dudung?”

“Kayaknya aneh Din, pembantu biasanya kan perempuan. Terus siapa yang beresin kamarmu?” Susi masih keheranan.

“Itu sih aku kerjain sendiri,” jawab Adin. “Sejak masuk SD, aku harus rapihin kamar. Paling-paling Bunda yang bantu.”

Susi mengangguk-angguk.

“Lagian, tugas Mas Dudung banyak. Kasian kan kalau harus ngerjain semuanya. Bisa-bisa dia kecapean, terus sakit.”

“Betul juga,” Susi mengiyakan. “Aku pernah ngepel kamar, wah..badan sampai pegel-pegel. Padahal hanya satu ruangan.”

“Tapi kamarmu kan berantakan banget,” Adin menggoda. “Itu yang bikin kamu harus kerja keras.”

“Iiih, dasar Adin!” Susi hendak mencubit tangan temannya, tapi Adin menghindar sambil tertawa.

Sejak Mas Dudung ada di rumah, Adin jarang menonton televisi. Ia lebih suka mengajak Mas Dudung mengobrol, bahkan sambil mengerjakan PR. Laki-laki itu selalu meladeni pertanyaannya dengan sabar. Bunda mengizinkannya, sebab Adin akan mengantuk bila tidak ditemani belajar.

Meja makan yang besar penuh buku dan alat tulis Adin. Ia lebih suka belajar di sana karena dekat dengan ruang tengah. Sepulang kerja, Ayah duduk-duduk di ruangan itu sambil bermain dengan Dek Arif. Bunda membaca buku atau merajut. Walaupun dalam kamar Adin terdapat meja belajar, ia merasa bosan jika harus sendirian.

“Nggak usah diberesin, Mas,” cegah Adin saat Mas Dudung hendak merapikan buku-bukunya. “Nanti aku kerjain sendiri. Mas Dudung duduk aja di sini.”

Dengan agak canggung, Mas Dudung duduk di seberang Adin. Memang Ayah dan Bunda selalu mengajaknya makan di meja bersama mereka.

“Mas Dudung kalau sudah ngantuk, bilang aja,” Adin meraut pensilnya.

“Belum kok, Din,” kata Mas Dudung perlahan. Ia nampak tertarik pada buku-buku pelajaran Adin.

“Kalau mau baca, silakan. Jangan malu-malu,” Adin menyodorkan salah satu bukunya.

Ayah sedang membaca koran di sebelah Adin. Ia tersenyum memperhatikan celotehan anak perempuannya.

“Bukunya bagus,” Mas Dudung berkata. Ia memandangi halaman yang bergambar.

“Oh ya? Adin sih malas baca, kecuali kalau ada PR atau ulangan,” Adin terkekeh. “Gurunya galak, Mas. Ada juga yang neranginnya bikin ngantuk.”

Mas Dudung tersenyum tipis.

“Mas Dudung dulu gimana? Suka nggak sekolah?”

Mas Dudung tersentak. “Suka, Din. Tapi..nggak selesai.”

Adin tidak mampu berkata-kata.

“Bapak meninggal, jadi Mas Dudung harus bantu Ibu cari uang,” kata Mas Dudung lirih.

Adin terdiam. Ia menyesali pertanyaannya. Mas Dudung pun salah tingkah. Ia terus menunduk dan tidak berbicara lagi.

“Maafkan..Adin, Mas,” sekuat tenaga Adin berkata.

“Nggak apa-apa, Din,” Mas Dudung tersenyum. Ia berusaha menenangkan Adin. “Mas Dudung ke belakang dulu, ya. Mau shalat Isya.”

Setelah Mas Dudung meninggalkan ruangan, Adin menghambur ke pelukan ayahnya.

“Ayah…” ia berbisik. Matanya penuh air. “Maafin Adin, suka males bikin PR. Adin nggak akan males belajar lagi.”

Ayah memeluk putrinya erat-erat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s