Sayur Pun Berhak Unjuk Rasa

 

Judul: Aletta dan Pemberontakan Sayur-Mayur

Penulis: Tria Ayu K.

Editor: D. Liana

Penerbit: Tiga Ananda, Mei 2013

Tebal: 64 halaman

 

Sekarang ini, segala sesuatu mudah ditanggapi dengan reaksi keras. Kalau bukan menyuarakan di media agar disebarluaskan, ya dengan unjuk rasa. Saya tidak menggunakan istilah “demo” karena sering tertukar dengan demo kecantikan atau demo alat masak.

Melanjutkan buku pertamanya, yang dicuplik sedikit di awal buku ini, penolakan Aletta terhadap sayur sudah dianggap keterlaluan. Misi sang ulat tanpa bulu tetap harus dilaksanakan. Dia tidak lagi berkata “demi bulu”. Mengapa demikian, silakan cari tahu dengan membaca langsung:)

Secara ajaib, sayuran segala jenis kompak memboikot keluarga Nyonya Teana. Dia kesulitan memperoleh sayur untuk konsumsi di rumah. Di satu titik, penulis mencoba menghadirkan sisi kanak-kanak Aletta dengan argumennya bahwa sayur itu “wangur” dan tidak sedap. Saya jadi teringat ucapan seseorang suatu hari, bahwa sebaiknya makan bukan menuruti lidah, tapi demi perut dan badan yang memerlukan.

Pemilihan tema masih terasa tepat karena harga berlomba naik di pasar ketika saya membaca novel ini.

Skor: 3/5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s