Superfudge (Lanjutan Kisah Anak Kelas Empat)

Penulis: Judy Blume

Alih bahasa: Hidayat Saleh

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 1994

Tebal: 208 halaman

 

Buku pertamanya, Kisah Anak Kelas Empat, saya hadiahkan pada keponakan yang waktu itu baru naik ke kelas empat. Kisah utamanya berkisar pada kekagetan Peter yang mempunyai adik, Fudge. Saya sendiri lupa nama asli Fudge.

Keterkejutan belum berakhir karena ibu Peter hamil lagi. Saya sudah terpingkal-pingkal karena reaksi Peter dan Fudge amat berbeda. Peter khawatir adik barunya akan seperti Fudge (dan membayangkan akan ada adik lain setelah itu). Dia marah karena orangtuanya menunggu empat bulan untuk memberitahu. Sedangkan Fudge antusias karena tidak mengerti, berkata, “Mau lihat bayi sekarang!” Kemudian Ibu membacakan buku tentang proses terbentuknya bayi kepada Fudge. Si bocah mengerti, menceritakan pada semua orang yang dia temui, dan… alhasil orangtuanya dipanggil guru ke sekolah.

Lambat-laun Peter terbiasa dengan kehadiran adik bayinya yang ternyata perempuan. Dia sebal karena lagi-lagi orangtuanya memberi nama kecil yang seaneh Fudge, yakni Tootsie-Wootsie. Tapi Peter rela momong bayinya, mendengarkan ibunya menangis kelelahan, dan menegur Fudge apabila tingkahnya keterlaluan memperlakukan Tootsie. Sebagian besar cerita justru menyoroti Fudge yang sebagai anak tengah merasa tersisih dan belum kenyang mendapat kasih sayang setelah adiknya hadir.

Sesuai dugaan, dia jadi sangat bandel dan merepotkan. “Aku sekarang anak tengah, jadi butuh perhatian,” katanya pada sang nenek. Fudge menguping perkataan ibunya di telepon. Dengan sangat baik, Judy Blume menggambarkan Fudge yang bingung. Menjaili dan mengajak main Tootsie tidak boleh, sedangkan meniru dan mengekor kakaknya juga tidak boleh. Fudge memperoleh sejumlah perbendaharaan kata baru seperti “hak istimewa” dan “bencana”, mengatai gurunya Muka Tikus, dan berteman dengan anak aneh bernama Daniel yang barangkali disengaja untuk membuat kesal orangtuanya. Masalah dimarahi tidak mengapa, yang penting bisa merebut perhatian. “Aku bayi Ibu, bukan Tootsie,” dia memprotes sambil berusaha minta gendong.

Bukan berarti porsi Peter tidak banyak. Dia kaget sewaktu orangtuanya memberitahukan kepindahan ke kota lain, dan reaksinya spontan lagi sangat natural. Ketika ibunya hendak bekerja lagi, Peter menyalahkan ayahnya karena tidak menjadi direktur biro iklan. Saat tahu sang ayah memutuskan cuti setahun, Peter berkata, “Lalu kita makan apa?” Namun naluri kekakakan Peter sudah tumbuh lebih baik tentu saja, dibandingkan Fudge. Dia punya rasa bertanggung jawab meski kerap dilanda persoalan khas anak-anak pula, semisal terkait pertemanan.

Saya bertanya-tanya seperti apa rasanya kalau buku ini saya baca ketika baru terbit, yaitu tahun 1994. Ketika itu saya baru masuk kuliah dan mungkin memerlukan bacaan macam ini sebagai penghiburan. Rasanya seru banget bisa menertawakan diri sendiri, walau saya tidak ingat betul sebadung apa saya waktu seumur Fudge.

Salah satu segi menarik buku ini adalah keterbukaan orangtua membahas pekerjaan dengan anak, dalam hal ini Peter. Relatif jarang saya temui di buku cerita anak karya penulis Indonesia, barangkali karena budaya. Oh ya, meminjam ungkapan anak gaul sekarang, alinea penutupnya cadas:))

Skor: 5/5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s